Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juli, 2013

Pemberian materi, diawali dengan diskusi  fenomena yang terjadi khusunya masyarakat Indonesia, sebagaimana berikut:
  1. Ramadhan Bulan Pemborosan
  2. Ramadhan Bulan Korupsi
  3. Ramadhan Bulan Waktu Luang
  4. Ramadhan Bulan Gosip
  5. Menjelang Idul Fitri, Masjid Makin Sepi, Pasar Makin Ramai

 

MATERI UTAMA

PERSIAPAN MENGHADAPI  BULAN RAMADHAN

Oleh : Ustadz Abdul Hasib Lc. (Pemimpin Yayasan Perguruan (ma’had) Al Hikmah, Bangka, Jak- Sel)

 I. BULAN  RAMADHAN

Bulan Ramadhan yang insya Allah  sebentar  lagi  akan kita masuki, adalah  bulan yang sangat  mulia,  bulan tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat yang paling tinggi, paling mulia: derajat taqwa.

“Hai  orang- orang yang ber iman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al Baqarah: 183).

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat:  13).

Predikat  taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

II. MINIMAL ADA TIGA HAL YANG  PERLU DIPERSIAPKAN

Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu:

1. Persiapan Ruh dan Jasad.

Dengan cara mengkondisikan diri  agar  pada bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah  terbiasa dengan ber puasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat , dan tubuh sudah terlatih berpuasa Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah  membaik, yang selanjutnya dapat  langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang  kadang- kadang dirasakan oleh orang- orang yang pertama kali berpuasa, seperti: lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.

Rasulullah saw menganj urkan kepada kita agar  kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban ini  dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif . ‘Aisyah RadhiyaLlahu‘anha berkata: ”Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: ”Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama’ hadits, lihat   Riyadhush- Shalihin, Fathul  Bari, Sunan At- Tirmidzi dan lain- lain).

Anjuran tersebut  dikuatkan lagi  dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: ”Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulanbulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini?” Beliau saw menjawab: ”Itulah bulan yang  dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR An- Nasa- i).

2. Persiapan Materi.

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan sant unan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat  besar akan didapat  oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun Cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat der mawan, sangat pemurah. Digambar kan bahwa sentuhan kebaikan dan sant unan Rasulullah saw kepada masyar akat  sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu‘anhu: ”Sungguh, Rasulullah saw saat  bertemu dengan malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan”. (HR Muttafaqun ‘alaih).

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapanpersiapan materi yang memadai.

 3. Persiapan Fikri (Persepsi).

Minimal persiapan fikri ini meliputi  dua hal, yaitu:

1.     Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2.  Dapat  memanfaatkan dan mengisi  bulan Ramadhan dengan kegiatan- kegiatan yang secara logis  dan konkr it mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.

III. KEUTAMAAN BULAN  RAMADHAN

1. Bulan Tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat taqwa.

Hai  orang- orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al Baqarah: 183).

2. Bulan diturunkannya Al Qur’an.

Bulan Ramadhan,  yang pada bulan itu Al Qur ’an diturunkan sebagai  petunjuk buat  manusia dan penjelasan tent ang petunjuk itu, dan sebagai pemisah (yang haq dan yang batil) (QS AlBaqarah: 185).

3. Bulan yang paling utama, bulan penuh berkah.

Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling utama adalah hari Jum’at (HR At- Thabarani)

Dari   Ubadah  bin  Ash- Shamit ,  bahwa  Rasulullah  saw  –pada  suatu  hari,  ketika  Ramadhan telah  tiba-   bersabda: “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt  memberikan naungan- Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat- Nya, Dia hapuskan kesalahan- kesalahan, dan Dia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah swt  akan  melihat  kalian  berpacu  melakukan  kebaikan. Para  malaikat  berbangga dengan  kalian,  dan  perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt”. (HR Ath- Thabarani)

4. Bulan ampunan dosa, bulan peluang emas melakukan ketaatan.

Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa- dosa, apabila dosa- dosa besar dihindari“. (HR Muslim).

“Barang siapa yang melakukan ibadah di malam hari bulan Ramadhan, kar ena iman dan menghar apkan ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (Muttaf aqun‘alaih). Apabila Ramadhan datang, maka pintu- pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon- yaithon dibelenggu“. (Muttafqun  ‘alaih).

5. Bulan dilipat gandakannya amal shaleh.

Rabb- Mu berkata: ”Set iap perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat  sampai tujuh ratus kali lipat , kecuali puasa, puasa itu untuk- Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai  yang melindungi dari api neraka. Bau mulut  orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari pada parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil  kepada seseorang diantara kamu yang tengah berpuasa, hendaknya ia kat akan: ”Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa”. (HR At- Tirmidzi).

6. Khutbah Rasulullah saw menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan mulia, bulan ibadah,  bulan santunan. Dari Salman Radhiyallahu‘anhu, katanya: Rasulullah saw ber khutbah di tengah- tengah kami  pada akhir bulan Sya’ban, beliau saw bersabda: ”Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi. Bulan yang di dalamnya ada  suatu  malam yang  lebih  baik  dari  seribu  bulan. Bulan yang  padanya  Allah  mewaj ibkan  berpuasa.  Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekat kan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwaj ibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannya syurga, Ramadhan adalah bulan santunan. Bulan ditambahkannya rizqi  orang mukmin. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada seorang yang berpuasa, balasannya adalah ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala  sebesar  yang didapat oleh  orang  yang  ber puasa,  tanpa  mengur angi  pahala  or ang  tersebut .  Sahabat   ber komentar ,  kata  mereka:  ”Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa? Sabda Rasulullah saw: ”Pahala tersebut akan diberikan Allah, meskipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya satu buah kurma, atau seteguk air, atau sesendok mentega”.

Bulan Ramadhan awalnya rahmat , tengahnya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka, siapa yang  memberikan keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu, Allah akan ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.

Pada bulan ini, perbanyaklah empat hal, dua diantaranya membuat kamu diridhai Rabbmu, dan dua yang lainnya sesuatu yang sangat kamu butuhkan”.

“Dua hal yang membuat kamu diridhai Rabbmu adalah:

  1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan
  2. Kamu meminta ampunan kepada- Nya.

Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah:

  1. Kamu meminta syurga kepada Allah, dan
  2. Kamu minta dilindungi dari neraka.

Siapa yang memberikan minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minuman kepadanya dar i telagaku yang tidak akan menjadi haus sampai dia masuk syurga”. (HR Ibnu Khuzaimah).

7. Ramadhan bulan jihad, bulan kemenangan.

Sejarah mencatat , bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beberapa kesuksesan dan kemenangan besar  dir aih ummat Islam, yang sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, tapi merupakan bulan kuat , bulan jihad, bulan kemenangan.

Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam Al Qur ’an sebagai yaumulfurqan (hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan),  dan ummat  Islam saat  itu meraih  kemenangan besar ,  terj adi  pada tanggal  17  Ramadhan t ahun 2 Hijriyah. Dan saat itu, gembong kebatilan: Abu Jahal, terbunuh.

Pada bulan Ramadhan pula fathu Makkah (pembukaan Makkah) terjadi, yang dibadaikan dalam Al Qur ’an sebagai Fathan Mubiiina (kemenangan yang nyata), tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 (delapan) Hijriyah.

Serangkaian peristiwa besar lainnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti: beberapa pertempuran dalam perang Tabuk, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 (sembilan)  Hijriyah.

Tersebarnya Islam di Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah.

Ditaklukkannya Andalus (Spanyol sekarang) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad pada tanggal 28  Ramadhan t ahun 92 Hijriyah.

Peperangan ‘Ain Jalut , dimana untuk pertama kalinya pasukan Islam ber hasil mengalahkan bangsa Mongol Tartar , yang sebelumnya sempat  dianggap mustahil, juga terjadi  pada bulan Ramadhan tahun 658  Hij r iyah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

IV. ADAB DAN  KIAT  MENGISI RAMADHAN

1. Puasa yang baik dilakukan dengan motivasi karena Allah.

“ Semua amal ibnu Adam adalah unt uknya, sat u kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat nya sampai tujuh ratus kali lipat , Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi  AKU,  orang yang ber puasa memiliki  dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut  orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah SW  dar ipada minyak misik“. (lihat  Shahih Bukhari hadits no: 1904, dan lihat  Shahih Muslim hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).

2. Disunnahkan bagi yang berpuasa agar memperlambat makan sahur, dan mempercepat berbuka.

• “Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan“. (HR Muslim).

• “Mintalah pertolongan dengan makan sahur agar dapat  berpuasa disiang harinya, dan dengan tidur  siang, agar dapat qiyamul-lail di malam hari“. (HR Ala Hakim)

• “Ada tiga hal yang dicintai Allah ‘Azza wa jalla: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan t ngan kanan di atas tangan kiri ketika shalat“. (HR Ath- Thabarani)

• “Manusia akan selalu dalam keadaan baik, selama mereka menyegerakan berbuka”. (HR Muslim).

3. Berdo’a ketika berbuka.

• “Bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, do’anya tidak ditolak“. (HR Ibnu Majah).

• ”Ya Allah, untuk- Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi- Mu aku berbuka, kepada- Mu aku bertawakkal,  kepada- Mu aku ber iman, dahaga telah hilang, urat-urat pun telah membasah dan pahala telah Engkau tetapkan insya  Allah ta’ala. Ya Allah yang Maha Luas karunia- N ya, ampunilah aku, segala puj i bagi Allah, yang telah member ikan pertolongan kepadaku, sehingga aku dapat berpuasa dan yang telah memberikan rizqi kepadaku, sehingga aku dapat berbuka”.

4. Memberikan makanan untuk orang yang berbuka puasa.

”Bar ang siapa yang member ikan makanan untuk berbuka bagi yang ber puasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan yang berpuasa itu tidak dikurangi pahalanya sedikit pun” (HR Ahmad, At – Tir midzi, I bnu Majah dan Ibnu Hibban).

5.   Menjaga   mata,   telinga   dan lidah  serta   anggota-anggota   tubuh  lainnya   dari   perbuatan  yang   tidak  ada faedahnya, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.

• ”Barang siapa yang tidak menjauhkan kata- kata dan perbuatan bohong, maka Allah tidak menerima puasanya”. (HR Bukhari).

• ”Bisa jadi orang yang qiyamul- lail itu hanya mendapatkan meleknya saja dan bisa jadi orang yang berpuasa itu hanya mendapatkan lapar  dan hausnya saj a.” (HR Ahmad, Ath- Thabarani dan Al Baihaqi dar i Ibnu Umar , juga dir iwayat kan oleh  Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan redaksi sedkit berbeda).

6.  Member ikan perhatian yang lebih besar ,  baik moral ataupun material kepada keluarga dan sanak  famili serta memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.

”Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau saw lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika bertemu  Jibril  ‘Alaihis- Salam, sungguh, kedermawanan beliau saat  itu lebih kuat  daripada angin yang ber t iup”  (HR Muttafaqun‘alaih).

7.  Meningkat kan  kajian  tentang  Islam,  tadarrus,  tilawah  dan  tela’ah  Al  Qur’an,  dzikir ,  do’a  dan  amal- amal kebajikan lainnya (QS Al Baqarah: 183 – 187).

”Dan Jibr il ‘Alaihis- Salam menj umpai nabi saw pada set iap malam bulan Ramadhan, dan beliau mengaj aknya bertadarrus Al Qur’an”. (HR Muttafaqun ‘alaih).

8. I’tikaf  pada ‘Asyrul Awakhir (10 hari terakhir bulan Ramadhan) dan meningkatkan aktifitas ibadah pada hari-hari tersebut.

”Nabi saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), beliau membangunkan keluarganya dan beliau menjauh dari istrinya”.

9.  Meningkat kan kesadar an ber mur oqobah,  mer asa  diawasi  terus  oleh Allah  swt  yang Maha  Mengetahui,  dan selalu menyadari bahwa diri kita tengah berpuasa, tengah beribadah dalam rangka mencapai ketaqwaan.

”Dan agar kamu mengagungkan Allah sesuai dengan apa yang ditunjukkan kepadamu” (QS Al Baqarah: 185).

10.  Pandai menent ukan skala prioritas amal islami dengan mengutamakan amal-yang lebih pent ing,   lebih banyak manf aat nya  dan lebih  cepat  mengant ar kannya  ke  syur ga,  baik berupa berj uang di jalan  Allah dalam menegakkan kalimat- Nya ataupun berinfaq fisabilillah,  seperti  yang dicontohkan oleh  Rasulullah  saw dan sahabat-sahabatnya. Ketika orang-orang minta dispensasi dari berinfaq dan berjihad. Rasulullah saw ber sabda: ”TIDAK BERSHODAQAH, DAN TIDAK BERJIHAD? JADI, DENGAN  APA KAMU INGIN MASUK SYURGA?“

Nara sumber: Ahmad Luthfi

Iklan

Read Full Post »

Para Ibu2 yang saya hormati dan mulyakan

 Mari pertama-tama kita bersyukur kepada Allah atas nikmat terus diberikan ke kita. Bersyukur disini adalah bersyukur, bukan hanya mengucapkan syukur. Ini harus hati-hati lho.. Apa bedanya..? Insya Allah nanti akan dibahas, apalagi ini penting dalam rangka mendidik anak kita.

 

Kedua, sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW atas petunjuk Islamnya, sehingga kita menikmati nikmat Islam, Iman… Sehingga tercurahkan pula untuk anak-anak kita. Ini jangan sampai lupa.. Karena ini penting.. Alhamdulillah kita punya iman, kita masih bisa ngajari anak kita. Karena apa..?

 

Waktu ini terus berputar, seiring dengan putaran waktu jalan kehidupanpun kian berubah, ya apa tidak…?.

 

Zaman yg kita alami sekarang tidak akan sama dengan zaman anak kita nanti.. Kalau zaman yg kita alami sudah seperti ini, terus gimana dengan anak kita nanti….? Ini.. harus hati-hati benar.. Di lingkungan luar, sudah ngeri macam sekarang. Apa.. contohnya..? Pertengkaran. Fitnah. Pembunuhan. Wes tah.. Na’uzu billah tsumma na’udzubillah. Belum lagi ngurusi masalah ibadah, hubungan kita dengan Allah. Banyak.. pekerjaan kita sebagai orang tua itu..

 

Maka dari itu, Sayyidina Ali berkata, maqolnya Sayyidina Ali :

“Allimu auladakum ghoiro ma ullimtum fainnahum khuliku lizamanin ghoiro zamanikum “

(Persiapkanlah generasi muda dengan hal2 yg prospektif & relevan dengan masa depannya nanti). (maqolah Sayyidina Ali bin Abu Tholib).

 

Kenapa demikian….??

Sebab masing2 zaman ada problemnya masing-masing. Ada masalah yang sifatnya tipikal, masalah yang samaaaa terus sepanjang zaman, ini sifatnya ruhani, masalah hati.. Ada juga yang sifatnya dzahir. Ini yang biasanya berubah tergantung zaman. Apa contohnya..? Makanan bisa jadi tambah sulit cari yang halal.. Wong bakso ayam campur tikus aja sudah ada kok.. Na’udzubillah. Teknologi tambah canggih, transportasi tambah canggih, kita bisa terbang ke sana sini. Terus hukum musafirnya jadi gimana..? Banyak macemnya.. Ini anak kita harus dibekali dengan ilmu-ilmu dzahir semacam ini.

 

Intinya inti apa..? Ayo kita ajari anak2 dengan ilmu agama yang sekiranya relevan dengan perkembangan zaman mereka. Paling kecil adalah, kita ajari ngaji Quran. Wong anak-anak jaman sekarang ini banyak kok yang ga bisa ngaji. Ayo sebagai ibu, di semangati anaknya. Jangan hanya les-les yang lain seperti kumon, doraemon, danamon.. les piano, dansa.. dan lain sebagainya..

 

Ini gak hanya di Jepang, tapi dimanapun.. Oke, understand..?

 

Kemudian yang kedua, ayok.. kita tidak memanjakan anak2 dengan cara memberi semangat, dengan cara yang santun, dengan cara menyenangkan. Dan dimulai sejak kecil, sebelum Sekolah dasar. Menurut para ahli, ini untuk membantu perkembangan. Maksudnya apa.. ya diberi waktu bermain, toh bermain itu kan juga belajar.. Tapi bukan mainan ipad rek…! iPad itu malah membuat anak kita menteleeenng ae di depannya. Lupa sama yang lain. Kalo itu ya jelek.. rek…

 

Yang ketiga, salah satu tanamkan sifat mandiri.. Anak itu berangkat sendiri ke sekolah.. ga usah diantar, ya kecuali kalau tidak memungkinkan. Tapi kalo disini kan lingkungan mendukung ya..? Lha nek di Indonesia, apalagi di Jakarta, mau aplikasi kayak disini.. “opo jalok matek opo anake..?”

 

Ada contoh lain, kalau anak jatuh, biarkan bangun sendiri. Tapi kasih semangat. Ada saat-saat tertentu, baru kita tolong. Intinya biarkan dulu, biar mereka bangkit dari jatuhnya dengan kekuatan sendiri tanpa bergantung orang sekitarnya. Tahan dulu… itu kuncinya.. Wes ya.. Kasih semangat, makanya disini mesti diucapkan “Ganbatte Kudasai” yang artinya “Bersemangatlah” atau “Berusahalah” atau “Berjuanglah”. Kata-kata penyemangat seperti itu sudah menjadi kebudayaan Jepang yang mana siapapun, di manapun dan dalam suasana apapun selalu diucapkan untuk saling menyemangati dalam berusaha memperoleh hasil yang lebih baik. Apakah hal semacam ini juga bisa diterapkan di Indonesia atau malah saling menghambat untuk tujuan menonjolkan diri?

 

Demikian ringkasan yang dapat saya sampaikan.

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Arie DS

PIS dilaksanakan di rumah teh Ani-Kampung Melayu Bulan Mei 2013

Gambar

Read Full Post »