Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Oktober, 2008

mbak Widi, mbak Kis, uni Fani, teh Ida, mbak Ida

mbak Widi, mbak Kis, uni Fani, teh Ida, mbak Ida

Selamat jalan mbak Widi, mbak Kis, uni Fani, teh Ida, mbak Ida …
Selamat bertugas kembali di negeri tercinta
Terima kasih untuk kebersamaan yang penuh canda
Yang pasti tak kan berwarna tanpa senyum “agak bingung” mbak Widi; humor mbak Kis dan uni Fani; tip-tip KB teh Ida; partisipasi mbak Ida (??)
Pastinya seneng bisa berlebaran di kampung halaman
Salam buat si ketupat yaa …

Petang itu, Sabtu 21 September 2008, di gedung JICA, PI Saijo mengadakan sayonara party untuk 5 anggotanya yang akan pulang ke tanah air. Acara utama adalah berbuka bersama di restoran “halal food” JICA, dilanjutkan dengan ngobrol-ngobrol, kesan pesan dari 5 anggota yang segera akan menjadi alumni dan juga dari anggota lain yang masih nunggu luuuuama untuk menjadi alumni, penyerahan souvenir (hingga sekarang masih penasaran mode on, apa yach isi kotak berwarna biru itu) dan aktifitas wajib berakting bersama di depan kamera.

PI Saijo in action

PI Saijo in action

Tulisan di atas disalin dari:

http://nanik.wordpress.com/2008/09/27/sayonara-party-21-sept-jica/
Iklan

Read Full Post »

Hanya melalui diskusi online usai Tadzarus, nggak pakai rapat2xan formal (kedip mbak Nisfu); terlaksanalah acara Pesantren Kilat untuk PI Saijo Juniors pada hari Sabtu, 20 September 2008, jam 09:00 sd 13:00 di Chuokouminkan lantai 2 ruang nomor 1. Sugoi! Salut buat seksi super sibuk acara ini, trio “Rida Sita Dewi”-nya PI Saijo, mbak Hendri, mbak Nisfu, mbak Piti. Acara Sabtu kemarin benar-benar heboh lho.

Ruangan sebelum dipermak
sedang menghias
sedang menghias
ruangan sudah mirip musholla
ruangan sudah mirip musholla

Salah satu ruangan di Chuokouminkan, yang awalnya hanyalah ruang kelas biasa, disulap menjadi mushola kecil yang cantik. Semua bangku dan kursi dipinggirkan, sebagai gantinya dipasang karpet di tengah ruangan. Hiasan “Ahlan wa Sahlan”, susunan acara dan spanduk ditempel di dinding dan di papan tulis. Layar OHP dipasang di salah satu ujung ruangan, sehingga anak2x bisa melihat tayangan video dengan jelas. Tak ketinggalan, dipasang pula perangkat audio untuk memper-merdu suara bapak/ibu pemandu acara 🙂 Eits, masih ada lagi, kalung pokemon untuk setiap peserta dan kartu peraga untuk belajar huruf hijaiyah juga ada lho. Benar2x komplet! Kalau dianalogikan dengan makan rawon niih …; maka nasi, kuah dan daging rawon, menjeng atau tempe goreng, toge (pendek), sambal terasi dan kerupuk udang, semuanya ada.

Pernak pernik
Pernak pernik
Peserta termuda
Peserta termuda

Sayang, tidak seluruh PI Saijo Junior bisa hadir. Ada yang sedang sakit atau mempunyai kesibukan lain. Total peserta 11 anak, sbb (diurutkan dari yang paling tua): Nabila chan, Hani chan, Trisha chan, Hanna chan, Tiya chan, Rafiif kun, Roy kun, Farid kun, Fida chan, Taqi kun, Lia chan. Peserta tertua 9 tahun dan termuda 8 bulan.

Acara pertama, pembukaan, dibuka oleh mbak Nisfu. Berikutnya, uraian tentang “Makna Ramadhan dalam Bahasa dan Perspektif Anak”, disampaikan oleh ustadz Taufik Djatna, dibantu oleh co-ustadz Aan. Seru deh (baca: “capek deh …”, sambil mengusap jidat), melihat bapak2x ustadz berebut microphone dan berebut bicara dengan para peserta yang semuanya pinter2x.

cerita
Ustadz & co-ustadz, in action

Terus, “Cerita tentang Ramadhan”, disampaikan oleh mbak Nisfu, berbarengan dengan pemutaran video “Upin dan Ipin” yang keren habis. Kalau tertarik, videonya bisa ditonton di sini. Selanjutnya, “Belajar Iqra” yang dipandu oleh mbak Piti, mbak Umi, teh Titin dan mbak Nanik. “Belajar Wudhu” dipandu oleh mbak Nanik, diawali dengan pemutaran video wudhu, dilanjutkan dengan games dan praktek gerakan wudhu bersama-sama. “Belajar Sholat” dipandu oleh mbak Piti, diawali dengan pemutaran video sholat , dilanjutkan dengan praktek gerakan sholat bersama-sama. Terakhir, acara penutup, diisi dengan do’a, pembagian hadiah dan foto bersama.

asyik menonton
asyik menonton video

Senang sekali melihat antusiasme anak2x dalam mengikuti keseluruhan acara Pesantren Kilat. Mudah2xan ”Ramadhan yang ceria” membekas di ingatan mereka. Meski hanya setahun sekali (eh, tahun kemarin ada nggak ya?), mudah2xan Pesantren Kilat ini bermanfaat bagi mereka. Amin3x.

Tim sukses
Semua bapak, mbak dan teteh yang namanya tertulis di atas, plus
Teh Euis : meminjam ruangan di Chuokouminkan
Teh Rose : membeli hadiah untuk anak2x
Pak Gus Pur : memutarkan video
Pak Iyan : mengangkut orang dan perlengkapan ke/dari tempat acara (bhs kerennya sie transportasi 🙂 )
Pak Ferry : memasangkan layar proyektor

Otsukaresamadeshita ….

img_3197

foto bersama

Sumber tulisan : Liputan langsung dan mail2x ttg Pesantren Kilat di milis PI Saijo.

Tulisan di atas disalin dari:

http://nanik.wordpress.com/2008/09/23/pesantren-kilat-pi-saijo-juniors/

Read Full Post »

Minaga 2

Sebagian masakan yang sempat terjepret

Menjelang saat berbuka, peserta semakin banyak berdatangan. Hampir seluruh anggota PI Saijo beserta keluarga hadir. Mbak Hendri, Teh Euis, mbak Nanik, mbak Isma, mbak Fitri (Piti), mbak Nisfu, mbak Widi, mbak Anik-Dokhi, mbak Christin, mbak Titin, mbak Poppy, mbak Ida (dari Mihara), mbak Afni dan mbak Krisna. Karena hampir semuanya kebagian jatah memasak, maka hampir semuanya datang dengan membawa buah tangan andalan, seperti rendang, bakwan, bakso, sop, rempeyek, es teler, kerupuk udang, bihun goreng, ikan bakar, ayam goreng, risoles, pastel, apel dan banyak lagi yang lainnya. Hehehe … jadi ingat geng PKL (pedagang kaki lima) dekat rumah di Indonesia ) Btw, ada yang tertinggal nggak ya? Ah iya, mbak Mai absen. Kehadirannya diwakilkan kepada dua buah semangka endhut, yang sejak sehari sebelumnya sudah dititipkan (kedip mbak Mai).

Bapak2x/mas2x yang hadir juga banyak. Saking banyaknya sampai tidak bisa ingat semua (baca: tidak tahu namanya ) ). Yang diingat cuma yang caem-caem seperti pak Ade, pak Arno, pak Ferry, pak Gus Pur, pak Ludi, pak Iyan, pak Taufik, pak Soni, pak Dokhi, pak Dedi, pak Ardi, pak Tri, pak Nia dan suami mbak Afni. Buah tangan bapak2x kebanyakan minuman botol dan nasi. Hanya pak Taufik yang tampil beda dengan membawa sambel super pedas. Ada-ada saja idenya untuk membuat peserta ter-huuuah-huuuah kepedesan (hihihi …).

Meskipun banyak yang datang dengan membawa buah tangan, bukan berarti “membawa sesuatu” bersifat wajib. Datang orang saja sebenarnya sudah cukup, tidak perlu bawa macam-macam. Yang penting bukan buah tangannya, tapi niatan untuk mencari ilmu dan memperkuat keyakinan dengan buka bersama, tarawih berjamaah, tadzarus bersama, mendengarkan nasihat (ceramah) bersama. Untung kalau bisa dapat pahala lebih. Tapi, kebanyakan ibu2x mengincar bonus pahala dari jerih payah memasak. “Barangsiapa memberikan makanan berbuka seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun berkurang.” Kira2x dapet nggak ya Ibu2x? Mudah2xan yaaa. Amin3x.

Berbuka yuuuk!

Senangnya memperhatikan hampir semua peserta menikmati hidangan berbuka yang istimewa. Jika biasanya para bujangan (baik asli maupun lokal) berbuka sendirian di rumah dengan menú sederhana; seperti teh manis, nasi dan kreasi telor atau kreasi sambal (mungkin lho …); para bapak/ibu berbuka bersama keluarga; para pekerja berbuka bersama mesin2x di tempat kerja; hari ini, bisa berbuka rame-rame dengan menú aneka masakan khas Indonesia. Itu belum seberapa, sebentar lagi kerinduan untuk shalat tarawih berjamaah, tadzarus dan mendengarkan ceramah pun akan terpuaskan. Seluruh rice cooker berisi nasi, yang sebelumnya penuh, hampir semuanya menjadi bersih dan licin, kecuali satu rice cooker berisi nasi kuning yang nasinya tidak matang. Hihihi …. Mungkin ada kesalahan teknis saat bapak2x/mas2x memasak nasi kuning tersebut; mungkin mengisi berasnya kebanyakan, atau mengisi airnya terlalu sedikit, sehingga nasi tidak bisa matang. Bisa ditebak, rice cooker yang satu ini tidak bersih dan licin seperti teman2xnya yang lain.

Tadzarus

Sambil menunggu kedatangan pak Ustadz; yang menurut selentingan, kebablasan sampai ke Hiroshima eki, padahal teman yang menjemput menunggu beliau di Saijo eki; sebagian besar peserta melakukan tadzarus. Khusus untuk PI Saijo, melanjutkan bacaan Alqur’an yang setiap hari dibaca bersama dalam tadzarus online usai Subuh. Oh iya, Tadzarus online yang biasanya dimoderatori mbak Piti, merupakan aktifitas PI Saijo yang dijalankan sejak hari ke-3 (bener ya?) bulan Ramadhan.

Jam 21:30. Pak Ustadz masih belum datang juga. Banyak peserta yang dari awal berencana untuk tidak menginap, harus pulang sebelum mendengarkan ceramah. Gerbang masuk Minaga ditutup jam 22:00, sehingga siapapun yang ingin pulang, harus cepat2x supaya tidak ketutupan. Mbak Krisna termasuk orang yang sangat kecewa karena harus pulang tanpa mendengarkan ceramah. Mbak Krisna tuh, wanita Indonesia yang menikah dengan orang Jepang, dan sudah memiliki 2 anak perempuan; yang besar kelas 6 SD dan yang kecil berusia sekitar 3 tahun. Dia datang bertiga dengan anaknya, ikut rombongan mbak Afni dan suaminya. Dengan ikutan buka bersama, dia ingin anaknya (terutama yang besar) tahu bahwa yang melakukan shalat, puasa, bukan hanya mereka bertiga saja, tapi banyak orang Islam lain yang melakukan hal yang sama. Bisa terbayangkan, betapa berat perjuangannya untuk menjalankan rukun Islam dan menjadi panutan bagi anak2xnya di tengah-tengah masyarakat yang tidak sepaham. Ketika mbak Krisna mengatakan,”Tolong ya, bener lo ya, saya diajak kalau ada acara-acara seperti ini”, terbayang kerinduannya akan suasana kebersamaan Islami.

The most wanted person on that day, pak Ustadz Prof. ?? (lupa namanya), yang khusus terbang dari Indonesia, akhirnya datang juga. Setelah dijamu dengan nasi kuning setengah matang (mohon maaf pak Ustadz, bukan maksud kami untuk tidak menghormati bapak, tapi karena benar2x terpaksa, karena nasi yang lebih baik sudah tidak ada. kata pepatah, tidak ada rotan, akar pun jadi ….), beliau langsung ditodong ceramah. Materi ceramah usai tarawih cukup menarik. Beberapa yang bisa diingat, al:
”… Apa sih yang harus kita lakukan untuk mengisi hidup ini? Pada hakikatnya, manusia hidup di dunia hanyalah untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kita belajar, mencari nafkah, hanya untuk mencari ridla Allah SWT. Jangan sampai ada sedikit pun untuk kepentingan dunia. Karena masalah dunia sudah ada jaminan dari Allah SWT, yang belum ada jaminan adalah masalah akhirat … “
“ … Jangan terlalu ngoyo dalam masalah dunia. Serius/sungguh2x itu harus, tapi jangan ngoyo, sampai tidak ada waktu untuk sholat, ngaji …”
“… Kita harus berterima kasih kepada orang miskin. Contoh, abang becak. Pernah nggak terbayang perasaan mereka saat mengayuh becak di terik matahari, sementara penumpang menikmati kayuhan dengan santai. Sudah capek, abang becak kadang2x masih dapat bonus bau surga, kalau penumpang kebetulan sedang sakit perut …”
Mungkin hanya itu point2x penting yang bisa diingat. Maklum, ibu2x mendengarkan ceramahnya sambil bolak-balik ke ruang makan, untuk menyiapkan teh dan menanak nasi buat sahur besok.

Ibu2x yang bertahan sd pagi

Anggota PI Saijo yang menginap hanya 5 orang, mbak Nisfu, mbak Piti, mbak Widi, mbak Ida, mbak Nanik, plus para penggembira cilik, Fida chan, Azalia chan, Hana chan, Taqi kun, Hani chan dan Roy kun. Kami ber-11 tidur bersama di salah satu ruang tidur wanita. Sulit sekali untuk mengawali tidur, terutama karena para penggembira cilik bergantian nengok ke luar. Suara ”sreeeg” geseran pintu yang berulang kali, menjadi penyebab utamanya. Setelah beberapa lama, karena kecapekan, kami semua tertidur juga.

Jam 24:00. Suasana sunyi sepi. Orang-orang sudah tidur. Bu X yang sejak beberapa menit lalu sudah terjaga, membuka mata. Gelap. Sesaat kemudian, ketika mata mulai terbiasa, terlihat bayangan ibu2x dan anak2x yang sedang tidur. Bagaimana ya? Jadi, enggak, jadi, enggak. Aduh, bagaimana? Mau ke kamar kecil sendiri, ngeri … Tapi, rasanya sudah tak kuat menahan lebih lama lagi. Nekat ah! Pelan sekali, bu X bangkit, berjalan ke arah pintu, menggesernya ”sreeeg”. Meski lorong terang benderang, tapi sunyi sekali. Mana jam 24:00 lagi. Di film2x horor, hantu2x biasanya keluar setelah lewat jam 24:00. Jangan2x, hantu di sini pun ngikutin kebiasaan teman2xnya yg ada di film. Hiiii. Karena perut tidak bisa diajak kompromi, Bu X pun membulatkan tekat. Pelan tapi pasti, langkahnya menuju ke kamar kecil wanita. Untung, kamar kecil pun terang benderang. Cepat-cepat bu X membuka pintu toire, dan ”sssshhhhh ….”, penutup WC membuka sendiri. Bu X terpana, belum habis kekagetannya, ”currrrrrr ….”, air di WC mengucur. ”Waaaaaaa ….” hanya itu teriakan bu X sesaat sebelum terdengar suara ”blug …”, seperti suara benda besar jatuh. Bapak2x yang ruang tidurnya paling dekat dengan kamar kecil wanita, segera berlarian. Mereka memindahkan bu X yang pingsan ke ruang tidur wanita. Setelah siuman, dengan terbata-bata bu X berkata, ”Ada hantu ….” Suara seseorang menimpali, “Di mana hantunya bu?” “Ada di WC. Waktu saya ke toire, tiba2x penutup WC membuka dan air mengucur ….” Gubrak! Beberapa orang tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Walah bu X! WC-nya kan otomatis, mesin yang menggerakkannya, bukan hantu. Hehehe … (baca dari belakang: .fitkif ini fargaraP ¡ayacrepid nagnaJ)

Pas sahur, ada insiden yang cukup menghebohkan. Nasi habis sebelum seluruh peserta makan sahur. Aha! Beberapa orang, termasuk pak Ustadz, harus menunggu matangnya nasi periode 2. Ibu2x cengar cengir dengan kejadian ini. Mbak Nisful berinisiatif mengupas apel dan ketimun, membagikannya ke peserta, “Sambil menunggu nasi, buahnya silahkan dinikmati dulu.” Hehehe, tak ada nasi, buah pun jadi ….

Setelah sholat subuh ada ceramah lagi. Kali ini tentang 9 tips untuk menjadi orang sukses, di antaranya kerja keras, cita2x yang besar, manajemen waktu, prioritas, dan apa lagi ya …. Gomennasai, benar2x lupa. Waktu itu terlalu serius mendengarkan. Semakin serius semakin cepet lupa ….

Acara terakhir adalah bersih-bersih. Ruang tidur, ruang makan, kamar kecil, semua tempat yang telah digunakan dibersihkan, dikembalikan ke keadaan semula. Sebelum pulang ke rumah masing2x, di depan penginapan Minaga, dilakukan foto bersama, aktifitas wajib yang tidak boleh dilupakan.

Alhamdulillah, 17 jam kebersamaan sudah dilalui. Mudah2xan membawa berkah bagi kami semua. Amin3x.

Tamat.

Tulisan di atas di salin dari :

http://nanik.wordpress.com/2008/09/21/minaga-2/

Read Full Post »

Buka Bersama Minaga 1

Pada tanggal 13 sd 14 September 2008, KMIH (Keluarga Muslim Indonesia Hiroshima) menyelenggarakan buka bersama di Minaga (pusat pelatihan milik Hirodai) yang diikuti oleh masyarakat muslim Indonesia yang tinggal di Saijo dan sekitarnya. Kalau melihat tanggal pelaksanaan, sepertinya 2 hari yach …, padahal sesungguhnya hanya 17 jam, berangkat tanggal 13 sore sekitar jam 16:00, dan pulang tanggal 14 pagi sekitar jam 09:00. Peserta terdiri dari pekerja Indonesia di Mihara dan Inoshima, mahasiswa/staff Hirodai beserta keluarga, ibu rumah tangga (wanita Indonesia yang menikah dengan orang Jepang) beserta keluarga. Jumlah total peserta lebih dari 40 orang. Ramai dech ….

Sejak seminggu sebelum pelaksanaan Buka Bersama di Minaga, milis PI Saijo sudah ramai membicarakan tentang pembagian tugas memasak; siapa yang akan memasak sop, rendang, krupuk, kue asin, kue manis, es teler dll. Hehehe …, sebagai informasi, topik favorit pertama (baca: topik yang sering muncul) di milis PI Saijo adalah tentang “birthday reminder” plus ucapan selamat ulang tahun untuk anggota PI Saijo, tempat kedua diduduki oleh informasi seputar pengajian PI Saijo (kapan, di mana, apa materinya), dan tempat ketiga adalah …. eng ing eng … tentang pembagian tugas masak-memasak untuk berbagai acara, entah itu acara KMIH atau acara PPI Hiro. Salah seorang ibu PI Saijo (kedip mbak Piti) bahkan sudah menyadari betul peran ibu2x PI Saijo sebagai ibu2x PKK-nya KMIH dan PPI Hiro )

PI yang menjadi bagian dari tulisan PI Saijo merupakan kependekan dari “Pengajian Ibu2x”, meskipun sesungguhnya anggota PI Saijo tidak hanya ibu, tapi juga mbak, pokoknya semua wanita muslim di seputaran Saijo, baik itu yang sedang kuliah, ibu rumah tangga maupun bekerja. Sebagai organisasi kecil2xan, PI Saijo juga memiliki ketua, sekretaris dan bendahara. Untuk periode Juli sd Desember 2008, jabatan ketua dipegang oleh mbak Dr. Hendri, sekretaris mbak Rose dan bendahara mbak Heni. Pengurus PI Saijo mengkoordinasi pelaksanaan pengajian ibu2x/mbak2x setiap Sabtu, 2 minggu sekali, dan mengkoordinasi masalah masak-memasak untuk acara KMIH dan PPI Hiro. Untuk mengurusi masak-memasak, pengurus PI Saijo periode ini memiliki petugas bayangan, yaitu mbak Master Nisfu (hihihi … kedip bu Iyan), yang senantiasa sigap menjemput dan membagi bola (… kok jadi bola?). Dengan adanya PI Saijo, lumayan …, ada waktu untuk bertemu dengan sesama wanita Indonesia, mengaji bersama, bergurau dan bergosip ala Indonesia, makan bersama, berdiskusi tentang masalah anak atau keluarga (bagi yang sudah berkeluarga); intinya mempererat tali silaturahmi sesama muslimah, setiap dua minggu sekali, disela-sela kesibukan sekolah, bekerja dan/atau mengurus keluarga.

Anak2x berpose di depan penginapan

Anak2x berpose di depan penginapan

Lokasi Penginapan Minaga agak jauh dari kampus Hirodai dan sepertinya tidak ada kendaraan umum yang mengakses ke sana, jadi harus menggunakan kendaraan pribadi atau nebeng kendaraan teman. Sebelum sampai di depan penginapan, ada tanjakan cukup tinggi yang menikung tajam. Di salah satu sisi jalan beraspal terdapat gundukan tanah cukup tinggi yang rumputnya seperti baru dipotong. Warna coklat tanah dan rumput kering, suara angin yang sunyi, hijau pepohonan yang diam tak bergerak, menghadirkan dag dig dug di dalam hati. Pemandangan dan suasananya mengingatkan pada jalan menuju ke rumah hantu yang ada di film2x honor. Hiiii … seraaaam! (Wei … ini mau nulis cerita horor atau liputan Minaga … :)) Thanks God, perasaan seram itu tidak berlangsung lama. Karena sesampai di puncak bukit, tepatnya di depan penginapan Minaga, perasaan berubah menjadi segar dan nyaman. Dari sana, pemandangan luas terbentang. Danau, deretan perumahan, lapangan olah raga, gunung, langit, orang, mobil, semuanya terlihat. Benar-benar freshhhh!

Tangga menuju lantai 2

Tangga menuju lantai 2

Setelah melewati entrance di lantai satu, di mana ada sofa dan meja tempat bersantai sambil nonton TV, terus belok kanan, dan menaiki tangga ke lantai 2, sampailah di tempat pelaksanaan buka bersama. Tempatnya wow! Sangat nyaman. Kamar kecil yang terpisah antara pria dan wanita, sangat bagus dan bersih, tidak kalah dengan kamar kecil hotel berbintang. Ruang makan luas, meja dan kursi yang tersedia sangat cukup untuk menampung semua peserta. Di dalam ruang makan juga ada kran air putih panas dan dingin, yang bisa diambil sesukanya tanpa bayar. Ada pula vending machine, mesin otomatis penjual minuman (coca cola, fanta, dll), yang juga bisa digunakan sesukanya, kali ini harus bayar. Ruang tidur pria yang sekaligus berfungsi sebagai tempat sholat berjamaah dan tempat mendengarkan ceramah, adalah ruang ber-tatami (alas anyaman jerami khas Jepang) yang sangat luas. Sementara ruang tidur wanita tidak jauh berbeda dengan ruang tidur pria, hanya lebih sempit. Di lemari dinding setiap ruang tidur tersedia futon (alas tidur), bantal dan selimut. Sebelum tidur kita tinggal menata semua perlengkapan tidur diatas tatami, dilanjutkan dengan grrrhhh hmmm grrrhhh hmmm grrrrh hmmm, berjalan-jalan di alam mimpi )

Bersambung ….

Tulisan di atas disalin dari:

http://nanik.wordpress.com/2008/09/19/liputan-perdana-pi-saijo-buka-bersama-minaga-1/

Read Full Post »

Dari pertama dah semangat dan mantap memilih RS Motonaga untuk melahirkan. pertama dekat, kedua, krn saya rencana caesar, maka melahirkan di RS lebih dianjurkan daripada di klinik, sehingga incase ada kasus ,macem2 sarana dan prasarana sdh lengkap. Dari catatan harian saya (cieee…ini diary terpaksa ditulis krn bete banget 10 hari(!) di RS, gak ngapa2in, merasa sehat2 saja.. dari pada bengong ), ada beberapa hal yg mungkin bermanfaat untuk di share:

1. Antri tidak lama

Dibanding di Tokiwa kuriniku, antre periksa kehamilan di sini jauh lbh cepat, biasanya cuman nunggu 15 menit. sementara di tokiwa rata2 2 jam !!

2. Dokternya senior, ramah, bisa eigo dikit2

3. Susternya~ standard Jepang kali ya~ ramah semua….

4. Kamarnya ok juga, bisa minta sendiri aja sekamar, meski ada 2 bed,  kalau tdk lg full pasiennya

5. Makanannya enak2 ( baru tahu ternyata org jepang kalau makan perlu 7 wadah!)

BIAYA

1. Untuk melahirkan secara operasi caesar

Karena operasi dianggap ada kelainan (tdk alami kali ya..), so banyak biaya yg di cover oleh asuransi. Untuk kasus saya , tagihan sekitar 320 ribu yen. jadi uang yg dah ditransfer dari pemda Saijo ke RS Motonaga kebanyakan, kan kita dapat hadiah 350 ribu, jadi uang kembali ke rekening suami sebesar  30 ribu yen.

2. Untuk melahirkan secara alami

Seperti ketika periksa kehamilan yg tdk ditanggung asuransi (atau ditanggungnya kecil?), melahirkan secara alami jg tdk ditanggung asuransi, sehingga biasanya tagihannya lebih mahal. Kalau tdk salah, mbak Anik/bu Eko dapat tagihan sekitar 400 ribu, atau mesti bayar selisih sekitar 50 ribu yen ke rumah sakit. (mbak Anik, tolong dikoreksi jg salah ya… gomen ne..)

BEBERAPA PERBEDAAN DG PENGALAMAN MELAHIRKAN DI INDONESIA

1. waktu operasi lebih lama

Di indonesia saya di ruang operasi cuman sekitar 1 jam. tapi disini operasi butuh wkt 2 jam plus persiapan sekitar 30 menit. ( ini mungkin krn mesti buka bekas sayatan pertama dulu kali ya… entahlah…krn nihonggo wakarimaseng jd serba gak tahu deh. gak bisa tanya2…..kecian..).

2. Lebih berasa sakit

katanya di jepang emang menggunakan pain killer minimal, karenanya saya merasa lebih sakit baik pas operasi maupun pasca operasi. ternyata kita mesti minta ke suster kalau membutuhkan pain killer…. ya apyuunnn… di indonesia mah kayaknya otomatis dikasih ya…

3. Waktu perawatan pasca operasi lebih lama

Di Surabaya dulu 3-4 hari abis operasi boleh langsung pulang. disini mesti nginep 10 hari (!). saya udah stress aja ngebayangin ngendon di RS selama itu…padahal berasa baik2 saja, apalagi apato bisa dilihat dr jendela kamar RS… duuuh jadi gemes deh, ngapain nggak pulang aja sih ya.. Alhamdulillah kakak sy datang menemani, plus dibawain buku trilogi andrea hirata : laskar pelangi… lumayan ngilangin rasa boring..

4. Dilarang makan makanan padat selama 7 hari!

ini yg sangat mengezutkan…. masak selama 5 hari saya cuman dikasih makan atau tepatnya minum air beras aka tajin !! walah2 merananya… 2 hari kemudian baru makan bubur gak ada rasa, dan baru hari ke 8 penderitaan berakhir: makan lengkap menggunakan 7 wadah tdk termasuk gelas minum…weleh..weleh…. ternyata meski cuman makan sakana, sayur ama tahu, rasanya enak banget…. entah krn lapar atau memang enak ya masakannya? atau jangan2 ada mirin dkk nya? waahhh…. semoga tdk ya… oh ya, di indonesia cuman hari pertama aja makan bubur, selebihnya lengkap: sup, main course, dessert, cemilan resoles, cake, dst.. Oh Indonesia I Love U…..

5. Akachan udah boleh room in sejak hari ke-2

berbeda dg di Indonesia yg baby selalu berada di baby room kecuali kalau kita minta, disini baby sdh room in aias dikelonin emaknya sejak hari ke-2 pasca operasi… jadi teringat sengsaranya hari2 awal ini… yg bawah masih sakit, sementara yg atas juga ngransemi alias suka bengkak, sakit.. mungkin krn baby blm bisa banyak minum tapi produksi ASI berlimpah, jd bengkak deh… cara mengatasinya adalah dipompa baik dg tangan maupun dengan alat dr RS, keduanya sama2 sakit….jadi inget ibu…ternyata sesakit ini ya dulu ibu melahirkan kita semua ke dunia… setelah beberapa hari baru deh semuanya getting better… kita dah tahu/mengenali baby kita, kapan wktnya nenen, pup atau sekedar pipis…. juga dah ngerti tangisnya, tangis lapar atau tdk nyaman krn pipis dst….

6. sebelum operasi, persiapannya teliti banget

dulu di Indonesia saya di operasi krn sdh 2 hari di RS baby blm lahir juga, padahal sdh pakai induksi yg maha sakit itu… so, begitu dokter bilang `ok, di operasi`, mk langsung sy dikeroyok beberapa suster buat persiapan operasi, dan 30 menit kemudian saya sdh di ruang operasi.

tapi krn disini sdh dijadwalkan operasi jauh2 hari (ktnya kalau anak pertama operasi, mk lbh tdk beresiko jk anak kedua operasi jg), mk saya merasa mengalami pesiapan kelahiran yg mayan banyak : cek darah, urin, detak jantung baby (berkali2 di cek ), pengosongan isi perut, cukur bulu sekitar perut (maaf), pasang kaos kaki kuetat (entah untuk apa..:p), pasang infusdan kateter… oh ya, sehari sebelumnya jg foto thorax (!) – takut 2 juga sih, masak hamil buesar kok di foto rontgen (eh nulisnya bener gak ya). ternyata di bagian perut ada baju tebal nan berat buat melindungi bayinya-

30 menit sebelum operasi dimulai saya sdh dibawa ke ruang operasi. disana dokter dan krue sdh menunggu.. persiapan macem2 dilanjutkan. dan tepat 30 menit kmdian operasi dimulai… sampai disini prosedurnya kayaknya dah standar dunia kedokteran ya…

ok de, azalea dah bangun nih, sekian dulu, maaf jk ada yg tdk berkenan….

Nisful Laila

Read Full Post »

Bila berada pada makanan tanpa label halal di Jepang

Keterangan:
Yang ditulis dengan warna biru termasuk syubhat, misalnya karena bisa berasal dari hewan atau tumbuhan.

Untuk kehati-hatian bahan-bahan syubhat ini lebih baik dihindari kalau tidak tahu, sesuai hadits berikut :
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Diantara keduanya ada yang syubhat, manusia tidak banyak mengetahui. Siapa yang menjaga dari yang syubhat, maka selamatlah agamanya dan kehormatannya. Dan siapa yang jatuh pada syubhat, maka jatuh pada yang haram. (HR. Bukhori dan Muslim)
Alhamdulillah beberapa makanan yang mengandung bahan syubhat diatas ada yang sudah menanyakan kandungan asalnya. Untuk referensi mengenai makanan apa saja yang sudah ditanyakan bisa dilihat link berikut. Disitu lengkap dengan gambar kemasan sehingga mudah untuk diingat.

Semoga bermanfaat, selamat berbelanja~

fitri

Read Full Post »

Kiriman bu Ninda

Pengen PhD yang nggak perlu `meres` otak?…ikutan deh program ini… bener-bener pas buat para ibu. Asik kan datang ke Jepang buat nemenin suami sekolah, disini bisa ikutan juga PhD program yang didesain khusus buat ibu-ibu. Nggak perlu ke kampus segala, ntar tau-tau dah `lulus` sipp kan? .:) bedanya cuma dikit.. klo yang PhD versi kampus selesai ntar dapat ijazah… nah klo yang special program ini selesainya dapat bayi!!!…:D sama-sama butuh kesabaran kan? hehe… jangan heran yah soalnya kan emang program PhD yang ini kependekan dari P(pernah) h(hamil) D(di Jepang)! 🙂

Hamil ?…Ngga ?…Hamil ?…Ngga ?….

Standar deh yah, klo terlambat bulan biasanya kan langsung beli test pack dulu (bisa beli di toko obat atau apotik terdekat, Medico-Fuji Grand Misonou atau di lantai satu Saijo Plaza misalnya). Klo dah pasti hamil yah periksa deh ke dokter. Sebenarnya pilihan dokter kandungan cukup banyak di Saijo, diantaranya adalah :

1. Imajyou klinik
2. Kadotani sanfujinka
3. Saijou tokiwa klinik
4. Magoshi sanfujinka
5. Motonaga Byouin

Tapi umumnya, dengan alasan utama karena dokternya perempuan dan dapat berbahasa Inggris, maka sampai dengan saat ini Tokiwa klinik menjadi pilihan favorit ibu-ibu Indonesia yang sedang mengikuti program PhD :D. Lokasinya ngga jauh dari Book Off dan Fresta (bisa dilihat petanya di link diatas). Klinik ini berupa bangunan dua lantai dan dokter kandungan ada di lantai 2. So klo mo daftar langsung aja naik ke lantai 2 dan berurusan dengan resepsionis lantai dua. Sayangnya Tokiwa klinik karena keterbatasan fasilitas belum bisa melayani persalinan. Jadi nanti sensei tokiwa ini akan merekomendasikan calon ibu ke klinik atau rumah sakit lainnya sebagai tempat bersalin. Oiya, jangan lupa untuk selalu membawa hokensho/kartu asuransi kalau pergi ke dokter manapun. Hal ini sangat penting karena akan berpengaruh pada tagihan biaya rumah sakit 🙂

Rutinitas Periksa

Hal-hal yang diperiksa sebenarnya standar aja. Berat badan, tekanan darah, periksa air seni, lingkar perut dan USG. Oiya, dikasih juga kaset video rekaman USG dari janin dalam kandungan yang kudu dibawa terus tiap periksa. Jangan lupa untuk menceritakan segala riwayat kehamilan yang sebelumnya (klo emang dah pernah hamil sebelumnya). Pokoknya sama aja deh kayak klo periksa di dokter Indonesia kan juga sebaiknya kita ngomong terus terang kondisi kita sama dokternya. Biaya 1 kali periksa berkisar antara 2 ribu sampai 4 ribu yen. Kecuali satu kali pemeriksaan yang bayarnya agak mahal -sekitar 10ribu yen- karena ada beberapa tes yang dilakukan terhadap darah calon ibu. Biasanya Tokiwa sensei akan memberitahu pada pemeriksaan sebelumnya sehingga kita bisa bersiap-siap.

Hal-hal yang harus diperhatikan juga adalah jaga jangan sampe berat badan naik terlalu banyak -klo ngga mau diplototi sama senseinya- he he he. Tanya deh sama para alumni PhD , ada ngga yg boshi techo-nya dilingkari merah sama sensei…:) Untuk kenaikan berat badan ini biasanya sensei akan membatasi sampai dengan 10 kg. Muzukashii kedo ne~

Yang lain juga, sensei disini tidak lantas otomatis memberi tambahan vitamin dan zat besi buat ibu hamil. Sarannya tetap jaga makan, olahraga ringan teratur, dan istirahat cukup. Klo kehamilan agak-agak bermasalah barulah dokter memberi obat atau penanganan medis lainnya.

Boshi Techo

Boshi techo atau buku catatan kesehatan ibu dan anak bisa dimiliki setelah kehamilan masuk bulan ketiga (minggu ke 13). Menurut senseinya, prosedur ini dilakukan dengan asumsi kalau kehamilan sudah masuk bulan ketiga dan kondisinya baik, Insya Allah (eh yg ngomong Insya Allah mah saya yah bukan senseinya..) kandungan akan terus berlanjut dengan resiko keguguran sudah lebih rendah.

Prosedurnya, sensei yang memeriksa akan memberikan surat pengantar buat ke hoken senta (deket youme town higashi hiroshima ten, peta lihat sini). Sebelum kesana, untuk student family bisa mengurus surat keterangan bebas pajak di shyakusho/city office bagian pajak. Keuntungannya dari surat keterangan bebas pajak ini adalah calon ibu akan mendapatkan tambahan lembaran kuning pada boshitecho yang dapat digunakan untuk mengurangi biaya periksa sampai dengan gratis (biasanya ditambah 2 lembar/anak). Lumayanlah pokoknya. Nah, berbekal surat pengantar dari sensei dan surat keterangan pajak itu, mintalah Boshi Techo di hoken senta. Simpan baik-baik Boshi techo karena akan dipake terus sampai bayi lahir, saat imunisasi dan saat pemeriksaan rutin umur 3 bln, 1.5 thn dan 3 thn.  Jangan lupa untuk selalu membawa hokensho/kartu asuransi selama mengurusi hal-hal diatas.

Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa Tokiwa klinik tidak melayani persalinan, sehingga calon ibu harus memilih rumah sakit/klinik mana yang akan menjadi tempat bersalin nanti. Biasanya pada saat umur kandungan sekitar 3 bulan ini juga sensei akan menanyakan mau melahirkan dimana untuk booking tempat. Selama ini ibu-ibu Indonesia di Saijo biasanya memilih  rumah sakit Motonaga atau Magoshi Sanfujinka. Tapi ada juga kok yang milih ke Hiroshima kota, semua tergantung pertimbangan masing-masing. Tentu saja bila dari awal sudah memilih untuk memeriksakan diri di rumah sakit atau klinik bersalin selain Tokiwa, tidak akan melalui proses yang ini 🙂

Persiapan sebelum melahirkan

Hal-hal yang perlu dipersiapkan menjelang persalinan bisa macem-macem, tergantung kondisi calon ibu. Biasanya point-pointnya seperti dibawah :

a. Kakak calon bayi
Kalo si calon bayi punya kakak, bisa mulai dipikirkan bagaimana nanti saat si ibu di rumah sakit dan saat awal kembali ke rumah setelah melahirkan. Masalah utamanya sih umumnya tentang siapa/bagaimana supaya kakaknya si bayi ada yang memperhatikan. Solusinya bisa macam-macam tergantung kondisi si kakak dan keluarga masing-masing. Yang jelas, ada fasilitas dari pemerintah untuk anak pre-school yang ibunya hamil, maka 3 bulan sebelum dan sesudah jadwal melahirkan bisa menitipkan anaknya di Hoikusho. Prosedur untuk memanfaatkan fasilitas ini bisa ditanyakan ke shiyakusho.

b. Ortu/keluarga lainnya
Ada juga yang memilih untuk mendatangkan ortu atau saudara buat menemani saat melahirkan. Sah-sah aja kok, yang jelas perhatikan saja urusan keimigrasiannya.

c.  Ongkos persalinan
Pemerintah daerah higashi hiroshima akan memberikan bantuan dana untuk tiap anak yang lahir sebesar 350ribu yen. Mulai 1 Oktober 2006, uang bantuan ini dapat diurus untuk langsung ditransferkan ke rekening rumah sakit/klinik tempat ibu melakukan persalinan. Hal ini sangat membantu sekali, karena kadang ada rumah sakit yang meminta deposit cukup besar. Biasanya sensei akan memberitahukan tentang hal ini di bulan-bulan terakhir kehamilan (sekitar minggu ke 36). Bila ternyata nantinya biaya rumah sakit/klinik lebih besar dari 350ribu yen, kita hanya membayar kekurangannya saja. Akan tetapi bila biayanya kurang dari 350ribu yen, kelebihannya akan dikembalikan untuk si bayi.

d. Perlengkapan bayi
Pada dasarnya sih semua keperluan bayi bisa diperoleh di Jepang, cuma kalo mau Indonesian style banget which means pengen pake jamu, stagen, minyak telon sampe kain gendongan, yah monggo siap-siap minta kirim dari Indonesia. Beberapa yang perlu dipersiapkan antara lain : pakaian bayi (tergantung musim), alat mandi, handuk, thermometer (untuk mengukur suhu air mandi dan tubuh), popok (bahan atau kertas, dochi demo ii), dll

Almost `graduate`

Untuk kasus periksa di Tokiwa klinik, masuk minggu ke 32 – 35 sensei akan memberi surat pengantar dan berpesan agar pada minggu selanjutnya mulai periksa di tempat bersalin yang sudah dipilih. Sama seperti di Indonesia, karena dah hampir jadwal melahirkan, frekuensi periksa juga jadi tambah sering, mulai dari 2 minggu sekali menjadi seminggu sekali, trus jadi per tiga hari dst tergantung kebutuhan. Pada saat ini juga bisa mulai dikomunikasikan kepada pihak rumah sakit tentang menu makanan selama rawat inap nanti (tidak makan daging toka, mirin toka, sake toka…).

Untuk pemeriksaan kurang lebih masih sama saja seperti minggu-minggu sebelumnya. Kalau sudah deket minggu ke-40 biasanya ada periksa jalan lahir. Mulai minggu ke 36 juga baiknya sudah mulai dipersiapkan tas yang berisi perlengkapan yang akan dibawa ke rumah sakit saat waktu persalinan tiba yang pada saat ini sudah bisa terjadi kapan saja. Beberapa barang yang perlu dipersiapkan antara lain (ini juga tergantung rumah sakit/klinik tempat bersalin) :

– Kartu rumah sakit/klinik, kartu asuransi dan boshitecho
– Perlengkapan ibu : Pakaian ganti ibu, perlengkapan mandi, sikat gigi, pembersih wajah, slipper, shampoo.
– Perlengkapan anak : Pakaian ganti dan selimut (terutama musim dingin nih) yang digunakan ketika keluar dari rumah sakit
– Kartu telepon atau telepon (Tolong perhatikan bahwa rumah sakit mempunyai aturan sendiri tentang kapan dan dimana bisa menggunakan telepon).

dll

Untuk yang ingin pas menjelang melahirkan dikasih suntikan penghilang rasa sakit (ephidural), jangan lupa untuk konsultasikan masalah ini saat awal mulai periksa di tempat kelahiran akan dilakukan. Ingat juga, saat kontraksi makin sering atau terjadi pecah ketuban tanpa kontraksi, telpon dulu ke rumah sakit sebelum datang kesana. Pihak rumah sakit yang menentukan kapan kita boleh datang. Jangan nekat datang kalau ngga mau disuruh pulang lagi :D. Selanjutnya rileks dan banyak berdoa semoga bisa graduate dengan lancar. Nantikanlah saat-saat dokter dan paramedis lainnya beramai-ramai bilang “omedetou gozaimasu!!”:) Yakin saja, Insya Allah akan ada kemudahan bersama kita. Amin.

Tambahan :

1. Tips untuk yang periksa kandungan ke Tokiwa klinik, supaya nggak terlalu lama ngantri  baiknya bikin appointment dulu lewat telpon atau bisa daftar trus ditinggal lagi (biasanya ini skalian kalo bapaknya anak-anak mo ke kampus diminta singgah dulu buat ngedaftarin). Kalau 2 cara diatas tidak memungkinkan, bisa juga dengan datang kira-kira setengah jam sampai 1 jam sebelum jadwal buka klinik resmi jadi bisa dapet nomor urut awal. Boleh juga sih siap-siap bawa penganan kecil sama minum siapa tau aja tetep berasa lama nunggu giliran. Bawa buku bacaan juga boleh kecuali klo merasa tertantang buat nyoba baca tumpukan majalah yg isinya gambar semua n ngga ada hurufnya itu!!!….he he he.

2. Untuk lembaran kuning yang ada dihalaman belakang boshitecho (untuk keringanan biaya periksa), biarkan saja resepsionis klinik yang `repot` ngurusi kapan menggunakannya. Kecuali buat yang ngga `buta huruf` monggo tanya-tanya langsung di resepsionis.

3. Tulisan diatas berdasarkan pengalaman pribadi semasa program PhD di saijo Hiroshima. Jadi akan sangat mungkin berbeda dengan pengalaman ibu-ibu yang lain. Bila ada yang kurang jelas silakan bertanya langsung dengan ibu-ibu lulusan PhD ini yang masih ada di Saijo ^-^

-Edited by Fitri-

Read Full Post »

Older Posts »