Feeds:
Pos
Komentar

Oleh Bapak. Sofitra

Sabar terhadap apa-apa yg telah Allah taqdirkan adalah bagian dari keimanan (aqidah) dan tauhid kpd Allah. Ini berarti mencela keadaan pada hakikaatnya adalah mencela Allah SWT yg telah menetapkan taqdir tsb.
Keutamaan sabar:
Imam ahmad: Allah telah menyebutkan sabar di 90 tempat dalam Alquran.
Hadist:
Kesabaran adalah cahaya (Riwayat Ahmad & Muslim)
Faedah hadist:
Tanpa kesabaran orang akan mendapatkan kegelapan “dzulumat”
Hadist:
Tiada seorangpun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas kegunaannya – daripada karunia kesabaran (Bukhari & Muslim)
Faedah hadist:
Kesabaran hakikatnya adalah perkara dan karunia yg besar. Dengan modal kesabaran seseorang akan tentram dalam melalui segala keadaan . Sehingga karunia dunia yg lain tdklah ada artinya dibandingkan dengan kesabaran.
Atsar:
Dari Umar bin Khattab RA: Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran
Faedah hadist:
• Tanpa kesabaran yg ada hanyalah kesengsaraan/kegalauan hidup. Contoh-contoh kehidupan yg menyakitkan hati: jujur  nggak sukses, parenting sdh maksimalanak ttp tdk sholeh, dikaruniai anakcacat, sakit kronis.
• Meminta kesabaran (bukan 1-2) tetap sebanyak-banyaknya. Doanya: Allahumma afrig ‘alaina sabran (Ya Allah, TUANGKAN atas kami kesabaran).
Hadist:
Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Amat mengherankan sekali keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan ada lagi seseorangpun melainkan hanya untuk orang mu’min itu belaka, yaitu apabila ia mendapatkan KELAPANGAN HIDUP, iapun BERSYUKUR, maka hal itu adalah kebaikan baginya,sedang apabila ia DITIMPA KESUKARAN – yakni yang merupakan bencana – iapun BERSABAR dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya.”(HR. Muslim)
Faedah hadist:
Jika kita mengenal dan mengimani Allah dengan segala sifat-sifatNya, maka kita tahu bahwa setiap yg telah terjadi di dunia adalah atas izin dan taqdir Allah SWT. Yang sudah terjadi disabari, yg belum diusahakan dan diikhtiarkan sebaik-baiknyanya, lalu bertawaqal kepada kepada Allah SWT akan hasil yg akan diperoleh.
Atsar:
Dari Ali bin abitolib RA: Kedudukan sabar terhadap keimanan seperti kedudukan kepala terhadap jazad.. TIDAK ADA IMAN bagi seseorang yg tidak memiliki kesabaran.
Faedah hadist:
• Jika kepala hilang maka badan akan mati. Iman berkurang dengan kurangnya sabar, imannya hilang dengan hilangnya kesabaran.
AlQur’an:
Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir ( Al-Ma`ārij 20-21).
Faedah:
Manusia adalah mahluk dgn keluh kesah. Ini adalah sifat asli manusia.

Sabar terhadap apa saja?
• Sabar dikatagorikan dalam 3 kondisi:
o Sabar untuk menjalankan hal-hal yg diperintahkan,
o Sabar untuk meninggalkan larangan dan
o Sabar terhadap segala ketetapan Allah SWT.

Sabar harus bagaimana?
• Definisi Sabar: menahan jiwa dari keluh kesah e.g., menjaga lidah dari ucapan jelek, marah mengenai taqdir; anggota badan terjaga dari merobek pakaian, rambut/ memukul muka.
• Kasih sayang adalah rahmad. Hati boleh bersedih krn itu manusia,bahkan mata boleh menitikan airmata, tetapi tdk keluar perkataan dari mulut kecuali kalimat yg Haq yaitu: Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
Hadist:

Dari Aisyah ra, Jika kepada Beliau SAW datang perkara yg MENGGEMBIRAKAN, maka Beliau berucap:

“Alhamdulillahi alladzi bini’matihi tatimmu alshoolihaati”
Artinya: Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih sempurna.

Dan apabila datang kepada Beliau perkara yang MENYEDIHKAN, Beliau berucap:

“Alhamdulillah ‘ala kulli hal”
Artinya: Segala puji bagi Allah, atas segala keadaan

(Ditakhrij Ibnu As-Sunni, Al Hakim dan Al-Albani dalam shahih Al-jami’ [4/201]

Rujukan/sumber:

  1. Buku Meraih Pahala besar dengan Amal Sedikit oleh Ustadz Badrussalam  (sumber utama tulisan)
  2. Kitab الأجر الكبير على العمل اليسير  oleh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf
  3. Kitab   عمل يسير وأجر كبير    Oleh Dr. Muhammad Shalih Al Munajjid

 

Motivasi Tema kajian:

وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik (QS. Al Isra: 19)

  1. A.       Hendaklah setiap Muslim YAKIN Adanya balasan/Pahala bagi orang yang beramal Sholeh

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥٧

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka…(QS Ali Imran 57)

(Red: lihat jg di Al-Quran: QS Al Baqarah 261, 277 dan QS Al Isra 19)

 

  1. Hendaklah setiap Muslim MEMOTIVASI diri untuk mencari Pahala
    1. Agar dapat merealisasikan tujuan kita diciptakan (QS Ad Dzariyat 56)
    2. Bahwa tak selamanya seseorang itu sehat, kaya, luang sedangkan kematian bisa datang tiba-tiba
    3. Agar tidak menyesal di hari kemudian akan kelalaianya di dunia.

supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah) (QS Az Zumar 56)

 

  1. C.       Hendaklah setiap Muslim memahami PANDUAN agar Meraih Pahala yang Besar
  2. Memahamai syarat diterimanya Ibadah
  • Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia beramal shalih, dan janganlah ia mempersekutukan dengan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya (QS Al-Kahfi 110)
  • Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah  (QS Al Hasyr : 7)
  • Jadi syarat diterima Ibadah yaitu: harus Ikhlas dan sesuai dengan syariat/sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Tafsir Al Qura’anil ‘adziem 5/154 Ta’liq Hani Al Haaj)

 

  1. Ibadah harus disertai Niat yang benar dan ikhlas; Dalil Hadits: “Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan…. (HR Bukhari no 1 dan Muslim 1907)
  2. Ibadah yang sesuai sunnah dan contoh Rasulullah adalah yang terbaik.

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik untukmu, bagi orang yang menginginkan Allah dan hari akhirat dan banyak mengingat Allah” (QS Al Ahzab 21)

  1. Bersikap pertengahan dan Istiqomah dalam Sunnah lebih baik daripada berlebihan dalam tapi tidak ada tuntunan dari Rasulullah. Hadits: “Barang siapa yang beramal dengan suatu amal yang tidak ada asalnya dari perintah kami, maka amal tersebut tertolak”. (HR Bukhari (2/753/2035), Muslim (3/1343/1718)
  2. Pahala Ibadah dilipat-gandakan pada waktu yang mulia; diantara waktu yang utama; 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, 10 akhir ramadhan, hari jumat. (dan lainnya yang ada haditsnya dari Rasulullah)
  3. Pahala Ibadah dilipat-gandakan pada tempat yang mulia; diantaranya masjidil haram, masjid nabawi, masjid aqsa, masjid quba (dan lainnya yang ada haditsnya dari Rasulullah)
  4. Ibadah yang memberikan manfat ke orang lain lebih utama dari pada Ibadah untuk diri sendiri. Hadits: Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Thabrani/Daruqutni, dan  Albani fi Shahihul Jami’ no. 3289) diantaranya; berbagi ilmu, nasehat, waktu yang bermanfaat
  5. 8.      Bila bertemu dua ibadah maka dahulukan yang wajib daripada yang sunnah. Hadits: Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya (HR Bukhari no 6502)
  6. 9.      Bila bertemu dua ibadah wajib maka dahulukan yang paling/lebih wajib. Misalnya mendahulukan yang fardhu ‘ain daripada fardhu kifayah. Taat kepada ibu lebih utama/didahulukan dibandingkan ayah. Mempelajari Aqidah/Tauhid yang benar lebih didahulukan sebelum yang lainnya.
  7. 10.  Ibadah yang lebih memperbaiki hati lebih utama dari yang selainnya. “Pada hari tidak bermanfaat harta dan anal-anak, kecuali siapa yang datang dengan membawa hati yang selamat. (QS Asy Syu’ara 88-89)
  8. 11.  Semakin sulit ibadah semakin besar pahala yang diraih; Dalil Hadits: Maukah aku tunjukkan kepada amal yang dengan Allah hapuskan kesalahan-kesalahan dan meninggikan dengan derajat ? mereka berkata,” Mau wahai Rosulullah !” Beliau bersabda,”Menyempurnakan wudhu ketika sulit, banyak berjalan menuju masjid, dan menunggu sholat setelah sholat (HR Muslim 1/219 no 251).
  9. 12.  Suatu amal, semakin besar manfaat/faidahnya maka semakin besar pahalanya
  10. 13.  Hendaklah mengetahui Ibadah yang paling utama. Dalil Hadits: Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya,” Amal apa yang paling utama ? beliau menjawab,” Iman kepada Allah dan Rosul-Nya”… (HR Bukhari no 26). Misalnya (sholat wajib, berjamaah dimesjid, di shaf pertama, sebelah kanan).
  11. Mempertimbangkan antara maslahat dan mudharot. Misalnya meninggalkan sunnah untuk menghindari mudhorat yang besar.

 

 

  1. D.       Diantara Amalan ringan dengan Pahala yang besar
    1. Membaca : Subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim. Hadits: “Ada dua kalimat yang dicintai oleh Allah, ringan di lisan, dan berat ditimbangan: (yaitu bacaan) Subhaanallaahi wa bihamdihi subhaanallaahil ‘adzim” (HR. Bukhari no 7/168 dan 8/70)
    2. Wudhu dengan sempurna dan membaca do’a. Hadits: “Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian selesai wudlu dia membaca: (doa wudhu yg shahih–red) maka akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Muslim, Abu Daud, lihat Shahih Targhib wa Tarhib I/166 no. 217 )
    3. Shalat dhuha dua rakaat. Hadits: “Setiap ruas tulang kalian wajib disedekahi, setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah, amar ma’ruf nahi munkar bernilai sedekah, dan semua kewajiban sedekah itu bisa ditutupi dengan dua rakaat shalat dhuha.” (HR. Muslim no.  720)
    4. Membaca/mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an. Hadits marfu’: “Yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan yang mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5027)
    5. Shalat sunnah dua rakaat sebelum subuh. Hadits: “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari pada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)
    6. Membaca shalawat. Hadits: “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak) (HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018),
    7. Mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan. Hadits: “Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. ….” (HR. Muslim, IV: 2060; Abu Daud, 4609)

 

Dan masih cukup banyak lainnya dan lengkapnya sebagaimana dijelaskan pada kitab rujukan diatas.

(Wallahu’alam)

 

Semoga Allah melimpahkan taufiq, kekuatan, dan kemudahan kepada kita sekalian untuk beribadah secara Ikhlas sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.

Saijo, Japan

7 Muharram 1435 H / Nov 10, 2013

 

Image

Pemberian materi, diawali dengan diskusi  fenomena yang terjadi khusunya masyarakat Indonesia, sebagaimana berikut:
  1. Ramadhan Bulan Pemborosan
  2. Ramadhan Bulan Korupsi
  3. Ramadhan Bulan Waktu Luang
  4. Ramadhan Bulan Gosip
  5. Menjelang Idul Fitri, Masjid Makin Sepi, Pasar Makin Ramai

 

MATERI UTAMA

PERSIAPAN MENGHADAPI  BULAN RAMADHAN

Oleh : Ustadz Abdul Hasib Lc. (Pemimpin Yayasan Perguruan (ma’had) Al Hikmah, Bangka, Jak- Sel)

 I. BULAN  RAMADHAN

Bulan Ramadhan yang insya Allah  sebentar  lagi  akan kita masuki, adalah  bulan yang sangat  mulia,  bulan tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat yang paling tinggi, paling mulia: derajat taqwa.

“Hai  orang- orang yang ber iman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al Baqarah: 183).

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat:  13).

Predikat  taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Ia baru akan diperoleh manakala seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan itu dengan berbagai kegiatan yang baik dan mensikapinya dengan benar.

II. MINIMAL ADA TIGA HAL YANG  PERLU DIPERSIAPKAN

Minimal ada tiga hal yang perlu dipersiapkan dalam menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah itu:

1. Persiapan Ruh dan Jasad.

Dengan cara mengkondisikan diri  agar  pada bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah  terbiasa dengan ber puasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat , dan tubuh sudah terlatih berpuasa Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah  membaik, yang selanjutnya dapat  langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak phisik dan proses penyesuaian yang  kadang- kadang dirasakan oleh orang- orang yang pertama kali berpuasa, seperti: lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.

Rasulullah saw menganj urkan kepada kita agar  kita memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban ini  dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif . ‘Aisyah RadhiyaLlahu‘anha berkata: ”Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. Demikian dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: ”Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama’ hadits, lihat   Riyadhush- Shalihin, Fathul  Bari, Sunan At- Tirmidzi dan lain- lain).

Anjuran tersebut  dikuatkan lagi  dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: ”Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulanbulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini?” Beliau saw menjawab: ”Itulah bulan yang  dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘Alamin. Dan aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR An- Nasa- i).

2. Persiapan Materi.

Bulan Ramadhan merupakan bulan muwaasah (bulan sant unan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat  besar akan didapat  oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun Cuma sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah saw pada bulan Ramadhan ini sangat der mawan, sangat pemurah. Digambar kan bahwa sentuhan kebaikan dan sant unan Rasulullah saw kepada masyar akat  sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas RadhiyaLlahu‘anhu: ”Sungguh, Rasulullah saw saat  bertemu dengan malaikat Jibril, lebih derma dari pada angin yang dilepaskan”. (HR Muttafaqun ‘alaih).

Santunan dan sikap ini sudah barang tentu tidak dapat dilakukan dengan baik kecuali manakala jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapanpersiapan materi yang memadai.

 3. Persiapan Fikri (Persepsi).

Minimal persiapan fikri ini meliputi  dua hal, yaitu:

1.     Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2.  Dapat  memanfaatkan dan mengisi  bulan Ramadhan dengan kegiatan- kegiatan yang secara logis  dan konkr it mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan.

III. KEUTAMAAN BULAN  RAMADHAN

1. Bulan Tarbiyah (pembinaan) untuk mencapai derajat taqwa.

Hai  orang- orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang- orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS Al Baqarah: 183).

2. Bulan diturunkannya Al Qur’an.

Bulan Ramadhan,  yang pada bulan itu Al Qur ’an diturunkan sebagai  petunjuk buat  manusia dan penjelasan tent ang petunjuk itu, dan sebagai pemisah (yang haq dan yang batil) (QS AlBaqarah: 185).

3. Bulan yang paling utama, bulan penuh berkah.

Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling utama adalah hari Jum’at (HR At- Thabarani)

Dari   Ubadah  bin  Ash- Shamit ,  bahwa  Rasulullah  saw  –pada  suatu  hari,  ketika  Ramadhan telah  tiba-   bersabda: “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt  memberikan naungan- Nya kepada kalian. Dia turunkan Rahmat- Nya, Dia hapuskan kesalahan- kesalahan, dan Dia kabulkan do’a. Pada bulan itu Allah swt  akan  melihat  kalian  berpacu  melakukan  kebaikan. Para  malaikat  berbangga dengan  kalian,  dan  perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt”. (HR Ath- Thabarani)

4. Bulan ampunan dosa, bulan peluang emas melakukan ketaatan.

Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa- dosa, apabila dosa- dosa besar dihindari“. (HR Muslim).

“Barang siapa yang melakukan ibadah di malam hari bulan Ramadhan, kar ena iman dan menghar apkan ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu diampuni. (Muttaf aqun‘alaih). Apabila Ramadhan datang, maka pintu- pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syaithon- yaithon dibelenggu“. (Muttafqun  ‘alaih).

5. Bulan dilipat gandakannya amal shaleh.

Rabb- Mu berkata: ”Set iap perbuatan baik dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat  sampai tujuh ratus kali lipat , kecuali puasa, puasa itu untuk- Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai  yang melindungi dari api neraka. Bau mulut  orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari pada parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil  kepada seseorang diantara kamu yang tengah berpuasa, hendaknya ia kat akan: ”Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa”. (HR At- Tirmidzi).

6. Khutbah Rasulullah saw menyongsong bulan suci Ramadhan sebagai bulan mulia, bulan ibadah,  bulan santunan. Dari Salman Radhiyallahu‘anhu, katanya: Rasulullah saw ber khutbah di tengah- tengah kami  pada akhir bulan Sya’ban, beliau saw bersabda: ”Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi. Bulan yang di dalamnya ada  suatu  malam yang  lebih  baik  dari  seribu  bulan. Bulan yang  padanya  Allah  mewaj ibkan  berpuasa.  Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekat kan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwaj ibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu, nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan sabar, sabar itu balasannya syurga, Ramadhan adalah bulan santunan. Bulan ditambahkannya rizqi  orang mukmin. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada seorang yang berpuasa, balasannya adalah ampunan terhadap dosa-dosanya, dirinya dibebaskan dari neraka, dan dia mendapatkan pahala  sebesar  yang didapat oleh  orang  yang  ber puasa,  tanpa  mengur angi  pahala  or ang  tersebut .  Sahabat   ber komentar ,  kata  mereka:  ”Ya Rasulullah, tidak setiap kami memiliki makanan untuk berbuka yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa? Sabda Rasulullah saw: ”Pahala tersebut akan diberikan Allah, meskipun yang diberikan untuk berbuka bagi yang berpuasa hanya satu buah kurma, atau seteguk air, atau sesendok mentega”.

Bulan Ramadhan awalnya rahmat , tengahnya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka, siapa yang  memberikan keringanan bagi hamba sahayanya pada bulan itu, Allah akan ampuni dosanya, dan dia dibebaskan dari neraka.

Pada bulan ini, perbanyaklah empat hal, dua diantaranya membuat kamu diridhai Rabbmu, dan dua yang lainnya sesuatu yang sangat kamu butuhkan”.

“Dua hal yang membuat kamu diridhai Rabbmu adalah:

  1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan
  2. Kamu meminta ampunan kepada- Nya.

Sedangkan dua hal lainnya yang sangat kamu butuhkan adalah:

  1. Kamu meminta syurga kepada Allah, dan
  2. Kamu minta dilindungi dari neraka.

Siapa yang memberikan minum kepada orang yang berpuasa, Allah akan memberikan minuman kepadanya dar i telagaku yang tidak akan menjadi haus sampai dia masuk syurga”. (HR Ibnu Khuzaimah).

7. Ramadhan bulan jihad, bulan kemenangan.

Sejarah mencatat , bahwa pada bulan suci Ramadhan inilah beberapa kesuksesan dan kemenangan besar  dir aih ummat Islam, yang sekaligus membuktikan bahwa Ramadhan bukan bulan malas dan lemah, tapi merupakan bulan kuat , bulan jihad, bulan kemenangan.

Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam Al Qur ’an sebagai yaumulfurqan (hari pembeda antara kebenaran dan kebatilan),  dan ummat  Islam saat  itu meraih  kemenangan besar ,  terj adi  pada tanggal  17  Ramadhan t ahun 2 Hijriyah. Dan saat itu, gembong kebatilan: Abu Jahal, terbunuh.

Pada bulan Ramadhan pula fathu Makkah (pembukaan Makkah) terjadi, yang dibadaikan dalam Al Qur ’an sebagai Fathan Mubiiina (kemenangan yang nyata), tepatnya pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 (delapan) Hijriyah.

Serangkaian peristiwa besar lainnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti: beberapa pertempuran dalam perang Tabuk, terjadi pada bulan Ramadhan tahun 9 (sembilan)  Hijriyah.

Tersebarnya Islam di Yaman pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah.

Ditaklukkannya Andalus (Spanyol sekarang) di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad pada tanggal 28  Ramadhan t ahun 92 Hijriyah.

Peperangan ‘Ain Jalut , dimana untuk pertama kalinya pasukan Islam ber hasil mengalahkan bangsa Mongol Tartar , yang sebelumnya sempat  dianggap mustahil, juga terjadi  pada bulan Ramadhan tahun 658  Hij r iyah. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

IV. ADAB DAN  KIAT  MENGISI RAMADHAN

1. Puasa yang baik dilakukan dengan motivasi karena Allah.

“ Semua amal ibnu Adam adalah unt uknya, sat u kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat nya sampai tujuh ratus kali lipat , Allah SWT berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-KU, dan AKU yang akan membalasnya, sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi  AKU,  orang yang ber puasa memiliki  dua kegembiraan, sekali waktu berbuka dan sekali lagi waktu bertemu Robbnya, sungguh bau tidak sedap mulut  orang yang berpuasa itu lebih wangi disisi Allah SW  dar ipada minyak misik“. (lihat  Shahih Bukhari hadits no: 1904, dan lihat  Shahih Muslim hadits no: 163 bab keutamaan puasa dengan sedikit diringkas).

2. Disunnahkan bagi yang berpuasa agar memperlambat makan sahur, dan mempercepat berbuka.

• “Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan“. (HR Muslim).

• “Mintalah pertolongan dengan makan sahur agar dapat  berpuasa disiang harinya, dan dengan tidur  siang, agar dapat qiyamul-lail di malam hari“. (HR Ala Hakim)

• “Ada tiga hal yang dicintai Allah ‘Azza wa jalla: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan t ngan kanan di atas tangan kiri ketika shalat“. (HR Ath- Thabarani)

• “Manusia akan selalu dalam keadaan baik, selama mereka menyegerakan berbuka”. (HR Muslim).

3. Berdo’a ketika berbuka.

• “Bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, do’anya tidak ditolak“. (HR Ibnu Majah).

• ”Ya Allah, untuk- Mu aku berpuasa, dan dengan rizqi- Mu aku berbuka, kepada- Mu aku bertawakkal,  kepada- Mu aku ber iman, dahaga telah hilang, urat-urat pun telah membasah dan pahala telah Engkau tetapkan insya  Allah ta’ala. Ya Allah yang Maha Luas karunia- N ya, ampunilah aku, segala puj i bagi Allah, yang telah member ikan pertolongan kepadaku, sehingga aku dapat berpuasa dan yang telah memberikan rizqi kepadaku, sehingga aku dapat berbuka”.

4. Memberikan makanan untuk orang yang berbuka puasa.

”Bar ang siapa yang member ikan makanan untuk berbuka bagi yang ber puasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan yang berpuasa itu tidak dikurangi pahalanya sedikit pun” (HR Ahmad, At – Tir midzi, I bnu Majah dan Ibnu Hibban).

5.   Menjaga   mata,   telinga   dan lidah  serta   anggota-anggota   tubuh  lainnya   dari   perbuatan  yang   tidak  ada faedahnya, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa.

• ”Barang siapa yang tidak menjauhkan kata- kata dan perbuatan bohong, maka Allah tidak menerima puasanya”. (HR Bukhari).

• ”Bisa jadi orang yang qiyamul- lail itu hanya mendapatkan meleknya saja dan bisa jadi orang yang berpuasa itu hanya mendapatkan lapar  dan hausnya saj a.” (HR Ahmad, Ath- Thabarani dan Al Baihaqi dar i Ibnu Umar , juga dir iwayat kan oleh  Ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan redaksi sedkit berbeda).

6.  Member ikan perhatian yang lebih besar ,  baik moral ataupun material kepada keluarga dan sanak  famili serta memperbanyak sedekah kepada fakir miskin.

”Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau saw lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan, ketika bertemu  Jibril  ‘Alaihis- Salam, sungguh, kedermawanan beliau saat  itu lebih kuat  daripada angin yang ber t iup”  (HR Muttafaqun‘alaih).

7.  Meningkat kan  kajian  tentang  Islam,  tadarrus,  tilawah  dan  tela’ah  Al  Qur’an,  dzikir ,  do’a  dan  amal- amal kebajikan lainnya (QS Al Baqarah: 183 – 187).

”Dan Jibr il ‘Alaihis- Salam menj umpai nabi saw pada set iap malam bulan Ramadhan, dan beliau mengaj aknya bertadarrus Al Qur’an”. (HR Muttafaqun ‘alaih).

8. I’tikaf  pada ‘Asyrul Awakhir (10 hari terakhir bulan Ramadhan) dan meningkatkan aktifitas ibadah pada hari-hari tersebut.

”Nabi saw apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), beliau membangunkan keluarganya dan beliau menjauh dari istrinya”.

9.  Meningkat kan kesadar an ber mur oqobah,  mer asa  diawasi  terus  oleh Allah  swt  yang Maha  Mengetahui,  dan selalu menyadari bahwa diri kita tengah berpuasa, tengah beribadah dalam rangka mencapai ketaqwaan.

”Dan agar kamu mengagungkan Allah sesuai dengan apa yang ditunjukkan kepadamu” (QS Al Baqarah: 185).

10.  Pandai menent ukan skala prioritas amal islami dengan mengutamakan amal-yang lebih pent ing,   lebih banyak manf aat nya  dan lebih  cepat  mengant ar kannya  ke  syur ga,  baik berupa berj uang di jalan  Allah dalam menegakkan kalimat- Nya ataupun berinfaq fisabilillah,  seperti  yang dicontohkan oleh  Rasulullah  saw dan sahabat-sahabatnya. Ketika orang-orang minta dispensasi dari berinfaq dan berjihad. Rasulullah saw ber sabda: ”TIDAK BERSHODAQAH, DAN TIDAK BERJIHAD? JADI, DENGAN  APA KAMU INGIN MASUK SYURGA?“

Nara sumber: Ahmad Luthfi

Para Ibu2 yang saya hormati dan mulyakan

 Mari pertama-tama kita bersyukur kepada Allah atas nikmat terus diberikan ke kita. Bersyukur disini adalah bersyukur, bukan hanya mengucapkan syukur. Ini harus hati-hati lho.. Apa bedanya..? Insya Allah nanti akan dibahas, apalagi ini penting dalam rangka mendidik anak kita.

 

Kedua, sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW atas petunjuk Islamnya, sehingga kita menikmati nikmat Islam, Iman… Sehingga tercurahkan pula untuk anak-anak kita. Ini jangan sampai lupa.. Karena ini penting.. Alhamdulillah kita punya iman, kita masih bisa ngajari anak kita. Karena apa..?

 

Waktu ini terus berputar, seiring dengan putaran waktu jalan kehidupanpun kian berubah, ya apa tidak…?.

 

Zaman yg kita alami sekarang tidak akan sama dengan zaman anak kita nanti.. Kalau zaman yg kita alami sudah seperti ini, terus gimana dengan anak kita nanti….? Ini.. harus hati-hati benar.. Di lingkungan luar, sudah ngeri macam sekarang. Apa.. contohnya..? Pertengkaran. Fitnah. Pembunuhan. Wes tah.. Na’uzu billah tsumma na’udzubillah. Belum lagi ngurusi masalah ibadah, hubungan kita dengan Allah. Banyak.. pekerjaan kita sebagai orang tua itu..

 

Maka dari itu, Sayyidina Ali berkata, maqolnya Sayyidina Ali :

“Allimu auladakum ghoiro ma ullimtum fainnahum khuliku lizamanin ghoiro zamanikum “

(Persiapkanlah generasi muda dengan hal2 yg prospektif & relevan dengan masa depannya nanti). (maqolah Sayyidina Ali bin Abu Tholib).

 

Kenapa demikian….??

Sebab masing2 zaman ada problemnya masing-masing. Ada masalah yang sifatnya tipikal, masalah yang samaaaa terus sepanjang zaman, ini sifatnya ruhani, masalah hati.. Ada juga yang sifatnya dzahir. Ini yang biasanya berubah tergantung zaman. Apa contohnya..? Makanan bisa jadi tambah sulit cari yang halal.. Wong bakso ayam campur tikus aja sudah ada kok.. Na’udzubillah. Teknologi tambah canggih, transportasi tambah canggih, kita bisa terbang ke sana sini. Terus hukum musafirnya jadi gimana..? Banyak macemnya.. Ini anak kita harus dibekali dengan ilmu-ilmu dzahir semacam ini.

 

Intinya inti apa..? Ayo kita ajari anak2 dengan ilmu agama yang sekiranya relevan dengan perkembangan zaman mereka. Paling kecil adalah, kita ajari ngaji Quran. Wong anak-anak jaman sekarang ini banyak kok yang ga bisa ngaji. Ayo sebagai ibu, di semangati anaknya. Jangan hanya les-les yang lain seperti kumon, doraemon, danamon.. les piano, dansa.. dan lain sebagainya..

 

Ini gak hanya di Jepang, tapi dimanapun.. Oke, understand..?

 

Kemudian yang kedua, ayok.. kita tidak memanjakan anak2 dengan cara memberi semangat, dengan cara yang santun, dengan cara menyenangkan. Dan dimulai sejak kecil, sebelum Sekolah dasar. Menurut para ahli, ini untuk membantu perkembangan. Maksudnya apa.. ya diberi waktu bermain, toh bermain itu kan juga belajar.. Tapi bukan mainan ipad rek…! iPad itu malah membuat anak kita menteleeenng ae di depannya. Lupa sama yang lain. Kalo itu ya jelek.. rek…

 

Yang ketiga, salah satu tanamkan sifat mandiri.. Anak itu berangkat sendiri ke sekolah.. ga usah diantar, ya kecuali kalau tidak memungkinkan. Tapi kalo disini kan lingkungan mendukung ya..? Lha nek di Indonesia, apalagi di Jakarta, mau aplikasi kayak disini.. “opo jalok matek opo anake..?”

 

Ada contoh lain, kalau anak jatuh, biarkan bangun sendiri. Tapi kasih semangat. Ada saat-saat tertentu, baru kita tolong. Intinya biarkan dulu, biar mereka bangkit dari jatuhnya dengan kekuatan sendiri tanpa bergantung orang sekitarnya. Tahan dulu… itu kuncinya.. Wes ya.. Kasih semangat, makanya disini mesti diucapkan “Ganbatte Kudasai” yang artinya “Bersemangatlah” atau “Berusahalah” atau “Berjuanglah”. Kata-kata penyemangat seperti itu sudah menjadi kebudayaan Jepang yang mana siapapun, di manapun dan dalam suasana apapun selalu diucapkan untuk saling menyemangati dalam berusaha memperoleh hasil yang lebih baik. Apakah hal semacam ini juga bisa diterapkan di Indonesia atau malah saling menghambat untuk tujuan menonjolkan diri?

 

Demikian ringkasan yang dapat saya sampaikan.

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Arie DS

PIS dilaksanakan di rumah teh Ani-Kampung Melayu Bulan Mei 2013

Gambar

PIS tanggal 3 maret 2013 bertempat di apato Mai Ghozali dan sekaligus acara pelepasan anggota PIS untuk kembali ke tanah air.

Materi pengajian yang disampaikan seperti disebutkan di judul, dan seharusnya yang menjadi pengisi acara adalah Ust. Ahmad Luthfi, berhubung ada kecelakaan (kaki Hilwa, anaknya kejepit sepeda, hiks masih inget, kasihan), alhasil menodong mbak Wulan untuk menyampiakan materi yang sudah disiapkan, sebagaimana terlampir berikut.

“Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu”

Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

Berikut ini adalah adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Adab Bagi Tuan Rumah

1. Ketika mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا,وَلاَ يَأْكُلُ طَعَامَك َإِلاَّ تَقِيٌّ

“Janganlah engkau berteman melainkan dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

شَرُّ الطَّعَامِ طَعَامُ الْوَلِيمَةِ يُدْعَى لَهَا الأَغْنِيَاءُ ، وَيُتْرَكُ الْفُقَرَاءُ

“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim)

3. Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya kalau diundang.

4. Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari)

5. Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya:

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ

“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)

6. Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamu.

7. Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim.

8. Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.

9. Mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.

10. Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai menikmatinya.

11. Di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

12. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ

“Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

13. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka.

14. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.

15. Adapun masa penjamuan tamu adalah sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ

“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”

16. Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumah.

Adab Bagi Tamu

1. Bagi seorang yang diundang, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ دُعِىَ فَلْيُجِبْ

“Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

وَمَنْ تَرَكَ الدَّعْـوَةَ فَقَدْ عَصَى اللهَ وَرَسُوْلَهُ

“Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari)

Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:

  • Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
  • Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
  • Orang yang mengundang adalah muslim.
  • Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
  • Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
  • Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.

2. Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.

3. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

4. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:

يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak makanannya! Namun, jika kamu diundang, masuklah! Dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan! Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi. Lalu, Nabi malu kepadamu untuk menyuruh kamu keluar. Dan Allah tidak malu menerangkan yang benar.” (Qs. Al Azab: 53)

5. Apabila kita dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian ibadah. Puasa tidak menghalangi seseorang untuk menghadiri undangan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ

“Jika salah seorang di antara kalian di undang, hadirilah! Apabila ia puasa, doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, makanlah!” (HR. Muslim)

6. Seorang tamu meminta persetujuan tuan untuk menyantap, tidak melihat-lihat ke arah tempat keluarnya perempuan, tidak menolak tempat duduk yang telah disediakan.

7. Termasuk adab bertamu adalah tidak banyak melirik-lirik kepada wajah orang-orang yang sedang makan.

8. Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu selesai makan, keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)

9. Sebagai tamu, kita dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berilah hadiah di antara kalian! Niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari)

10. Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, ia harus meminta izin kepada tuan rumah dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ

“Ada seorang laki-laki di kalangan Anshor yang biasa dipanggil Abu Syuaib. Ia mempunyai seorang anak tukang daging. Kemudian, ia berkata kepadanya, “Buatkan aku makanan yang dengannya aku bisa mengundang lima orang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengundang empat orang yang orang kelimanya adalah beliau. Kemudian, ada seseorang yang mengikutinya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau mengundang kami lima orang dan orang ini mengikuti kami. Bilamana engkau ridho, izinkanlah ia! Bilamana tidak, aku akan meninggalkannya.” Kemudian, Abu Suaib berkata, “Aku telah mengizinkannya.”” (HR. Bukhari)

11. Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ

“Orang-orang yang puasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian. semoga malaikat mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي

“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.” (HR. Muslim)

اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.” (HR. Muslim)

12. Setelah selesai bertamu hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

***

Penulis: Abu Sa’id Satria Buana
Artikel www.muslim.or.idImageImageImageImageImageImageImageImage

Materi di sampaikan dalam PIS 20 Januari 2013
Tema: Menjaga Hati Qolbu dengan Mengetahui Penyakit Qolbu dan Cara Pengobatinya
Pemateri: Ahmad Ghozali

PENGENAL ISTILAH “HATI”

– Pengertian secara fisik, biasanya orang Indonesia mengenalnya sebutan hati.
Dari segi bahasa :
Qolb = jantung (Indonesia), heart (Inggris)
Kabid = hati (Indonesia), liver (Inggris)

– Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih kanak-kanak. Beliau pernah dibelah dadanya oleh Malaikat Jibril untuk dibersihkan Qalb-nya. Dengan demikian yang dibersihkan adalah Jantung bukan lever (hati), karena Jantung terletak didada.

– Jika anda jatuh cinta kepada suami atau istri, pasti yang berdebar-debar kencang itu adalah jantung, bukan hati.

– Jadi secara anatomi manusia (fisik), Qolbu itu lebih tepat dikaitkan dengan JANTUNG daripada HATI manusia

QOLBU SEBAGAI PUSAT PEMIKIRAN DAN PEMAHAMAN (AKAL), BUKAN DI OTAK.
– Al-Farra’ -seorang pakar bahasa Arab- mengatakan bahwa makna qolb dalam ayat (yang artinya), “….bagi orang yang memiliki qolb….” (QS. 50: 37) ialah akal. Di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa akal itu letaknya di dalam Qalb bukan dalam di otak.

– Secara Medis, ada indikasi tentang kaitan sifat-sifat jantung dengan ingatan manusia. Ada banyak dokter ahli yang menyatakan bahwa ada beberapa pasien mengalami perubahan sikap/prilaku dan pemikirannya setelah diadakan transplantasi jantung.

– Berikut kasus medis yang dikutip dari buku berjudul OTAK SEJUTA GIGABYTE karya Eric Jensen dan Karen Markowitz yang menunjukkan hubungan tersebut.

o “Seorang laki-laki berusia 41 tahun terus diganggu oleh bayangan-bayangan dirinya yang dikelilingi oleh mesin-mesin berkekuatan tinggi, yang bisa membunuhnya. Belakangan, laki-laki tersebut baru tahu bahwa jantung yang baru-baru ini dicangkokan ke dalam tubuhnya, berasal dari seorang remaja putri yang mati karena mobil yang sedang dikendarainya ditabrak sebuah kereta api”.

o “Seorang wanita tiba-tiba saja menderita rasa sakit pada punggung bagian bawahnya setelah dia menerima transplantasi jantung dari seorang laki-laki yang mati tertembak di bagian punggung bawahnya.

– Laporan dari Dr. Paul Pearsall (The Hearts Code) menunjukkan bahwa kira-kira sepuluh persen pasien penerima transplantasi organ mengalami perubahan pada nafsu seksual, hobi, selera makan, atau ekspresi wajah mereka, atau munculnya masalah-masalah kesehatan yang sebelumnya tak pernah dialami secara tiba-tiba. Semua perubahan tersebut terjadi setelah mereka menerima transplantasi organ.

– Kasus-kasus menarik yang diceritakan di atas, tentu saja tidak bisa membuktikan bahwa ingatan terletak pada sel-sel tubuh kita. Namun, hal itu telah memicu para ilmuwan untuk membuka kembali perdebatan sengit tentang sifat-sifat jantung dan ingatan.

– Apabila benar dugaan bahwa jantung bisa berpikir, dan sel-sel tubuh bisa mengingat, dan bahwa jiwa sebagian besar merupakan serangkaian ingatan selular yang dibawa oleh jantung, dan karenanya komunikasi tersebut dapat melintasi batas ruang dan waktu, mungkin tak lama lagi, kita harus mengakui bahwa dugaan yang berasal dari kebudayaan-kebudayaan kuno – yang menyatakan bahwa jantung bisa mengingat- benar adanya!

PENTINGNYA MENJAGA QOLBU
– Allah SWT memberikan nikmat berupa hati qolbu untuk membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Allah berfirman:
“Dan kami (Allah) telah jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka memiliki qulub (jantung) akan tetapi jantungnya tidak mereka gunakan untuk memahami; mereka memiliki mata tapi tidak mereka gunakan untuk melihat; dan mereka memiliki telinga akan tetapi tidak mereka gunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka layaknya binatang ternak, bahkan lebih rendah daripada itu, dan merekalah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raaf, 179).

– Hadis Rasulullah Saw: Dari Nu’man bin Basyir berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda:
الْقَلْبُ وَهِيَ أَلاَ كُلُّهُ، الْجَسَدُ فَسَدَ فَسَدَتْ وَإِذَا كُلُّهُ، صَلَحَ صَلَحَتْ إِذَا مُضْغَةً الْجَسَدِ فِي إِنَّ أَلاَ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal darah. Jika ia baik, seluruh jasad akan baik pula. Jika ia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah bahwa itu adalah qalbu.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 52, dan Muslim no. 4070)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan (Syarh Muslim, 6/108-109), “Di dalam hadits ini terdapat penegasan agar (manusia) berupaya memperbaiki Qalb serta menjaganya dari kerusakan. Sekelompok ulama berargumen dengan hadits ini untuk menyatakan bahwa akal terletak di dalam Qalb bukan di kepala (otak), dan dalam hal ini terdapat khilaf yang masyhur. Pendapat para ulama dan mayoritas mutakallimin menyatakan bahwa akal terletak di dalam Qalb.” Pendapat serupa juga disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dengan menyebutkan dalil-dalilnya ketika menjelaskan kandungan hadits ini (lihat Fath Al-Bari, 1/158).

QOLBU SAKIT = PINTU IBLIS/SYETAN MENGGODA MANUSIA
– Secara batin Seperti di kutip dalam situs Republika, dari Ustad Arifin Ilham, menyarankan untuk mengenali 7 hijab hati.
1. “Azzunub”, tumpukan dosa tanpa diiringi dengan kesungguhan bertaubat
2. “Alwasikh” banyak makan dan minum haram
3. “Aljahlu” sangat pintar ilmu dunia tetapi bodoh dan malas belajar Islam
4. “Alhawa tutbau” Nafsu yang diperturutkan terus menerus, seperti minum air laut yang kesannya menghilangkan dahaga.
5. “Hubbuddunya”, terlalu cinta dunia sehingga tidak peduli lagi halal dan haram
6. “Alzhulmu” banyak orang yang telah disakiti
7. “Asysyaithoonu rookibuhu” adalah kesimpulan yang bermakna bahwa Azzunub, Alwasikh, Aljahlu, Alhawa tutbau, dan Hubbuddunya, adalah pintu iblis dan syetan untuk menyusup ke qolbu manusia. Sehingga dengan mudah syetan menundukkannya sampai tidak sadar manusia itu dalam kesesatan (QS 7:175).

– Imam al-Ghazali secara ringkas menyebutkan penyakit Qolbu bermuara pada tiga hal
o hasud (iri)
o riya’
o ‘ujub atau takabbur
Ketiga penyakit ini merupakan induk dari semua penyakit qolbu lainnya.
– Jika kita cermati ketiga jenis penyakit kronis in, bahkan penyakit-penyakit qolbu lainnya serta kerusakan yang ditimbulkannya sejatinya berpangkal dari ‘Virus’ cinta dunia (Hubb al-Dunya) yang berlebihan.

BAGAIMANA CARA MENJAGA QOLBU DAN MENGOBATI QOLBU YANG SAKIT
– Traditional version: ada 5 macam obat hati
o Membaca Al Quran dan maknai artinya
o Lakukan sholat malam
o Berkumpul dan berteman dengan orang-orang sholeh (berilmu, beramal dan konsisten)
o Berpuasa sebanyak mungkin
o Berdzikir setiap saat, setiap waktu

– Buku berjudul “ Penuntun Qolbu, Kiat Meraih Kecerdasan Spiritual “ yang ditulis, KH. Muhyiddin Abdusshomad. Beliau menyuguhkan terapi penyembuhan yang paling efektif yang intinya:
o Dzikrullah
Qolbu yang selalu berdzikir kepada Allah Swt, akan timbul kesejukan jiwa, sehingga seseorang akan menjadi lapang dalam menghadapi segala pernik-pernik problematika kehidupan. Buahnya yang dapat dipetik, ia tidak akan silau atas kenikmatan yang dimiliki orang lain. Begitu juga ia tidak akan sombong dengan kelebihan yang dimilikinya.

o Tadabbur.
Ikhtiar penyembuhan penyakit qolbu yang kedua adalah dengan melakukan tadabbur. Tadabbur adalah merenungkan hakikat kehidupan manusia di dunia serta memikirkan tentang apa yang sedang menimpa dirinya. Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang lemah. Kalau kita renungkan semua hal yang ada di dunia ini esensinya milik Allah. Dia-lah juga yang mengaturnya dengan penuh bijaksana. Jadi, sifat iri sama sekali tidak ada mamfaatnya. Itu hanya perbuatan sia-sia.

– Penutup: Allahumma ya Allah bersihkan hati qolbu kami dari semua dosa, sombong, munafik, riya, ujub, berbagai penyakit, hijab hati qolbu dan ranjau syetan. Dan janganlah Engkau palingkan hati qolbu kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi karunia…Amin
Referensi:
[1] Ustad Arifin Ilham. Kenali Tujuh Hijab Hati, dikutip dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/pojok-arifin-ilham/12/11/28/md9zqd-kenali-tujuh-hijab-hati
[2] KH. Muhyiddin Abdusshomad. Penuntun Qolbu: Kiat Meraih Kecerdasan Spiritual Qolbu, Sentra Kehidupan Manusia. Khalista, 2006
[3] Qolbu Itu Jantung Bukan Hati, dikutip dari http://rumahorang.multiply.com/journal/item/56

Pasca Ramadhan

Assalamualaikum wr wb

Pengajian PIS memasuki akhir bulan syawal yaitu 24 september 2011 diisi Oleh Pak Yudi Aditya yang sebentar lagi akan pulang ke Tanah air karena sudah menyelesaikan studynya.

Saya rangkum sedikit mengenai materi yang disampaikan Pak Yudi

– Agama Islam adalah agama yang ditengah-tengah,maksudnya agama yang tidak memberatkan umatnya

-Hal-hal yang dipelajari dalam bulan ramadhan:
1. kebersihan aqidah
2.Beribadah yang benar
3.Akhlak yang benar
4.Fisik Kuat
5.Kesungguhan dalam ibadah
6.teratur dalam urusan

Sesi pertanyaan dari mba ani,mba anis, mba tari yang baru datang beliau istrinya ketua KMIH Hiroshima yaitu pak zaenal, semoga betah ya mba^_^, bu wiji dan mba yayas

Pertanyaan sekitar mengenai keluarga, bagaimana cara memberitahu keluarga kita untuk menjalankan ibadah tepat waktu? Bolehkan shalat sambil duduk di bandara karena belum terbiasa/khawatir dengan orang jepang yang melihat dsb

Setelah materi adalah sesi yang ditunggu-tunggu yaitu makan-makan.
Menunya siomay dan spagheti

Cemilannya wihhh aneka rasa, ada okonomiyaki, gorengan, snack tentu minuman

Pengajian ini di rumah mba yayas sekalian lelang barang2 mba yayas yang akan pulang juga